Kambing Jawa Randu Jepara Penghasil Cuan yang Bikin Candu

Sabtu 31-01-2026,22:00 WIB
Reporter : Arief Pramono
Editor : Wawan Setiawan

JEPARA, diswayjateng.com- Di Desa Plajan dan Suwawal Timur, Kabupaten Jepara, usaha peternakan kambing terus bergerak menghidupkan ekonomi warga. 

Dari balik kandang-kandang kayu yang sederhana, tersimpan cerita tentang kegigihan dan kebersamaan para peternak. 

Mereka menggantungkan hidup kepada ternak kambing Jawa Randu. Jenis kambing ini terkenal tangguh, cepat tumbuh dan menghasilkan daging melimpah. 

Bagi para peternak di dua desa ini, Jawa Randu bukan hanya komoditas. Ia adalah sumber harapan, rezeki, dan pengikat kebersamaan.

Sejak tahun 2007, Hadi Purnomo memimpin Kontak Tani Ternak (KTT) Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji yang beranggotakan 22 orang. 

Tantangan menghampiri Hadi dan kelompoknya setiap musim hujan. Keterbatasan pakan, kesehatan ternak menurun, dan harga jual kadang tak bersahabat. 

Namun pendampingan dari DKPP, PPL, hingga BPKH Jawa Tengah membuat kelompok ini tetap bertahan.

Sistem pemerataan kesejahteraan pun diterapkan. Setiap anggota memelihara dua indukan dan hasil anakan disisihkan untuk kas kelompok. 

Meski harga saat ini melemah, anak kambing jantan empat bulan hanya sekitar Rp1,5 juta, betina tak sampai Rp500 ribu.

“Jawa Randu itu dagingnya banyak, harga lebih terjangkau dibanding PE (Peranakan Etawa) yang harganya mahal namun daging lebih sedikit.,” ujar Hadi. 
Limbah kotoran ternak kambing diolah menjadi pupuk organik.--

Di Suwawal Timur, KTT Ayo Maju 2 di bawah komando Komari menghadapi kendala serupa. Yakni penyakit gatal, pilek, batuk, dan gangguan mata. 

Namun dengan pelatihan silase, teknik perawatan hingga penyuntikan, kelompok ini mampu merawat 332 ekor Jawa Randu dan menjaga kas hingga Rp6 juta. 

Saat harga anjlok, mereka memanfaatkan pemasaran online dan pengepul. Bukan hanya ternaknya yang menggerakkan ekonomi, tetapi juga limbahnya. 

Di Plajan, setiap anggota wajib menyetor satu sak limbah per bulan untuk diolah menjadi pupuk organik. 

Di Suwawal Timur, limbah difermentasi menggunakan disinfektan dan tetes tebu selama 21 hari sebelum menjadi pupuk siap pakai di sawah anggota. 

Kategori :