TPA Jatibarang Semarang Dikaji Jadi Pusat Produksi Maggot
Pemkot Semarang mengkaji produksi maggot dan penggunaan biodekomposer di TPA Jatibarang untuk mengurangi sampah organik serta membuka peluang ekonomi masyarakat.-diswayjateng.id-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, diswayjateng.id — Sampah organik di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang, diarahkan untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi melalui budidaya maggot dan pemanfaatan biodekomposer. Skema tersebut dibahas Pemerintah Kota Semarang sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus membuka peluang usaha berbasis pengolahan limbah.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti membahas pengembangan teknologi tersebut bersama formulator biodekomposer Mangontang Simanjuntak di Ruang Rapat Wali Kota Semarang, Senin (19/10/2026). Salah satu gagasan yang dikaji ialah pembangunan unit produksi maggot terpusat di kawasan TPA Jatibarang.
TPA Jatibarang Disiapkan untuk Pengolahan Maggot
Melalui konsep tersebut, sampah organik akan diarahkan menjadi bahan baku budidaya maggot yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk peternakan ayam dan sektor perikanan.
Pengembangan unit produksi maggot juga diharapkan dapat menciptakan pasar bagi hasil pengolahan sampah. Pemanfaatannya direncanakan menyasar masyarakat penerima bantuan ayam sehingga rantai pengolahan limbah dapat dihubungkan dengan kegiatan ekonomi produktif.
BACA JUGA:Debit Mata Air Bismo Menyusut, Perumda Batang Minta Pelanggan Siapkan Cadangan Air
BACA JUGA:Tumbuh dari Usaha Sederhana, BRILink Agen Nilam Sari Kini Kelola 15 Gerai di Medan
“Kalau TPA Jatibarang itu bisa jadi pabrik maggot, maka kita bisa menciptakan offtaker untuk mengirimkan maggot ini kepada minimal orang-orang yang selama ini diberi bantuan ayam,” kata Agustina.
Menurut Agustina, pengembangan pengolahan sampah tidak harus sepenuhnya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Keterlibatan berbagai pihak dinilai diperlukan untuk mendukung penyediaan sarana dan keberlanjutan operasional.
“Saya ingin membiasakan bahwa creative financing membuat kita tidak harus menggunakan APBD. Kita bisa menggerakkan banyak pihak,” ujarnya.
Biodekomposer Dibahas untuk Mengurangi Bau Sampah
Selain budidaya maggot, penggunaan biodekomposer turut dibahas sebagai alternatif untuk membantu mempercepat penguraian sampah organik. Teknologi tersebut juga diarahkan untuk mendukung penanganan bau dan limbah cair di tempat penampungan sementara (TPS) serta TPA Jatibarang.
BACA JUGA:Rumah Apung Timbulsloko Dilirik Pekalongan, Demak Punya Peluang Wisata Edukasi Rob
BACA JUGA:Ratu Batang Masih Misteri, Sri Sultan HB X Bakal Telusuri Manuskrip Keraton Yogyakarta
Pemanfaatan cairan lindi sebagai bahan pupuk hayati juga menjadi bagian dari pembahasan. Alternatif ini diharapkan dapat menghubungkan pengelolaan hasil samping sampah dengan kebutuhan sektor pertanian.
Namun, penerapan teknologi tersebut masih memerlukan persiapan sarana, pengujian, dan penyesuaian terhadap kondisi pengolahan sampah di lapangan.
Pengolahan Sampah Didorong Membuka Peluang Ekonomi
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

