Empat Capaian HIV di Demak Masih Perlu Digenjot, Dinkesda Perkuat Pendampingan ODHIV
Supervisi dan mentoring program HIV PIMS Dinkesda Demak bersama RSUD Sunan Kalijaga untuk mengevaluasi capaian dan memperkuat layanan ODHIV.-Foto: Samsul-
DEMAK, diswayjateng.id – Pelaksanaan program HIV dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) di Kabupaten Demak terus dievaluasi. Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Demak menemukan sejumlah indikator yang masih membutuhkan penguatan agar pelayanan terhadap orang dengan HIV (ODHIV) dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Evaluasi tersebut dilakukan melalui kegiatan Kunjungan Supervisi dan Mentoring Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Faskes) Dampingan YKS di Ruang Pertemuan Lantai 2 RSUD Sunan Kalijaga Demak.
Kegiatan melibatkan jajaran Dinkesda Demak, RSUD Sunan Kalijaga, Tim HIV Dinkesda, pendamping, serta tim HIV dan program terkait dari rumah sakit.
Supervisi tidak hanya membahas capaian program, tetapi juga menggali berbagai kendala yang dihadapi fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan layanan kepada ODHIV.
BACA JUGA:Masyarakat Boyolali Kesulitan Air Bersih, Kekeringan Berdampak ke 13.098 KK
BACA JUGA:KPK RI Bahas Hibah dan Bahaya Pokir Bersama Pemkab dan DPRD Boyolali
Dari evaluasi capaian hingga Agustus 2026, terdapat empat indikator yang menjadi perhatian. Keempatnya adalah inisiasi terapi antiretroviral (ARV), pemeriksaan viral load (VL) bagi ODHIV yang memenuhi kriteria, pencapaian hasil VL tersupresi, serta pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi ODHIV yang memenuhi kriteria.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkesda Demak, Heri Winarno, mengatakan temuan tersebut menjadi bahan untuk memperkuat koordinasi dan menentukan langkah perbaikan.
“Supervisi dan mentoring ini penting untuk melihat secara bersama-sama capaian program sekaligus mengetahui hambatan yang terjadi di lapangan,” kata Heri, Minggu (4/10/2026).
Menurutnya, indikator yang belum tercapai tidak hanya sebagai catatan evaluasi, tetapi juga menjadi dasar untuk menyusun tindak lanjut bersama agar pelayanan HIV tetap berjalan secara berkesinambungan.
Dalam supervisi tersebut, tim juga mengevaluasi sejumlah aspek lainnya. Di antaranya pengobatan sifilis, skrining tuberkulosis, pengobatan ibu hamil dengan HIV, pengobatan sifilis pada ibu hamil, hingga penelusuran ODHIV yang hilang dari perawatan.
Hal tersebut menjadi penting karena penanganan HIV membutuhkan kesinambungan layanan. ODHIV yang telah teridentifikasi perlu tetap mendapatkan pendampingan, pengobatan, serta pemantauan sesuai kebutuhan.
Programer HIV Dinkesda Demak, Nurbarokah, mengatakan pihaknya mendorong agar tidak ada ODHIV yang terputus dari layanan kesehatan.
“Kami mendorong agar setiap ODHIV yang sudah teridentifikasi dapat tetap terhubung dengan layanan,” ungkap Nurbarokah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

