Santri Gen Z Didorong Jadi Kreator Konten Positif di Kabupaten Tegal
KONTEN KREATOR - Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman mengajak para santri untuk menjadi konten kreator, di Pondok Pesantren Muhammadiyah Zaenab Masykur, Banjaran, Kecamatan Adiwerna, Minggu (8/3/2026).--
SLAWI, diswayjateng.com – Perkembangan teknologi digital membuka ruang luas bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan, berdakwah, hingga berkarya melalui berbagai platform media. Namun di balik peluang tersebut, dunia digital juga menghadirkan tantangan berupa maraknya hoaks, informasi yang belum tentu benar, hingga konten yang kurang mendidik.
Hal inilah yang menjadi perhatian Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman. Ia mengajak para santri generasi Z untuk memperkuat budaya literasi sekaligus memproduksi konten positif di ruang digital.
Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Pelatihan Santri Gen-Z Memproduksi Konten Media dalam rangka Gerakan Santri Menulis (GSM) ke-32 di Pondok Pesantren Muhammadiyah Zaenab Masykur, Banjaran, Kecamatan Adiwerna, Minggu (8/3/2026).
Kegiatan yang diikuti ratusan santri itu turut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, jajaran Pemerintah Kabupaten Tegal, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta sejumlah tokoh pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Ischak menekankan bahwa santri memiliki peran penting dalam menjaga kualitas ruang digital. Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan literasi dan tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi.
“Karena itu para santri harus mampu menjadi generasi yang produktif menciptakan konten positif sekaligus berperan dalam menangkal hoaks di ruang digital,” ujar Ischak.
Ia menilai Gerakan Santri Menulis merupakan langkah strategis untuk membekali para santri dengan kemampuan literasi media dan keterampilan jurnalistik. Melalui kemampuan tersebut, para santri diharapkan mampu menyampaikan pesan-pesan kebaikan yang menyejukkan di tengah masyarakat.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata. Pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter, berakhlak, dan adaptif terhadap perkembangan zaman juga menjadi bagian penting.
“Melalui kegiatan ini kami berharap lahir generasi santri yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu berkontribusi melalui karya dan pemikiran di ruang publik,” imbuhnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa literasi merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan, literasi tidak sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan mengolah gagasan dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Jika ingin membuka cakrawala dunia, maka perbanyaklah membaca, baik membaca Al-Qur’an, kitab, novel, maupun berbagai literatur lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan membaca akan memperkaya wawasan sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis. Dari sanalah lahir tulisan-tulisan yang mampu memberi inspirasi dan pencerahan bagi banyak orang.
Antusiasme peserta terlihat selama pelatihan berlangsung. Salah satu peserta, Rahma Aufa Mahida (17), mengaku kegiatan tersebut memberikan motivasi baru bagi para santri untuk lebih aktif menulis.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: