Ratusan Warga Berebut 7.000 Kue Ganjel Rel, Tradisi Semarang Sambut Ramadan
GANJEL REL: Sebanyak 7000 potong kue ganjel rel dibagikan warga ditengah alun-alun Semarang pada rangkaian kirab budaya Dugderan sebagai penanda masuknya bulan Suci Ramadan.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, Diswayjateng.com – Ratusan orang berdesakan di tengah Alun-alun SEMARANG. Tangan-tangan terangkat ke udara, berharap mendapat bagian kue ganjel rel yang dilempar dari atas panggung pada tradisi SEMARANG sambut Ramadan yaitu kirab Budaya Dugderan.
Momentum yang diselenggarakan satu tahun sekali itu menjadi penutup rangkaian Dugderan 2026, tradisi khas Kota Semarang dalam menyambut bulan suci Ramadan.
Sebanyak 7.000 kue ganjel rel disusun membentuk gunungan menyerupai masjid. Dari sanalah kue-kue khas Semarang itu dibagikan kepada masyarakat.
Dalam hitungan menit, gunungan yang semula utuh berubah menjadi lautan tangan yang saling berebut rezeki Ramadan.
Diana, warga Bangetayu, mengaku harus berjuang keras untuk mendapatkan kue tersebut. Ia sempat terhimpit kerumunan sebelum akhirnya mendekat ke panggung.
“Awalnya saya posisi di tengah, saat ganjel rel dilempar akhirnya berebut dan hancur. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mendekat ke panggung, dan alhasil dapat dua dari Bu Agustina,” ungkap Diana, Senin 16 Februari 2026.
Ganjel rel merupakan jajanan tradisional khas Semarang yang identik dengan perayaan Dugderan.
Kue ini berbentuk persegi panjang, berwarna cokelat, bertekstur padat, dan bertabur wijen di bagian atasnya. Nama “ganjel rel” merujuk pada bentuknya yang menyerupai bantalan rel kereta.
Kehadiran ganjel rel bukan sekadar kuliner pelengkap, melainkan simbol berbagi keberkahan menjelang Ramadan. Setiap tahun, pembagian kue ini selalu menjadi momen yang dinantikan warga.
Sebelum pembagian dimulai, suasana sakral terasa ketika beduk dipukul tiga kali dan dentuman meriam menggema.
Prosesi tersebut dilakukan langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, sebagai penanda resmi dimulainya rangkaian penutup Dugderan.
Perayaan Dugderan 2026 diawali dengan pasar rakyat yang berlangsung selama sepekan. Puncaknya ditandai kirab budaya dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang, kemudian dilanjutkan ke Masjid Agung Jawa Tengah.
Sepanjang Jalan Pemuda, ribuan warga memadati sisi jalan sejak siang hari. Cuaca cerah menambah semarak iring-iringan kirab yang menampilkan aneka kostum warna-warni, kesenian tradisional, hingga replika Warak Ngendog.
Kirab secara resmi dibuka dengan pemukulan beduk oleh Agustina yang dalam prosesi adat berperan sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: