Dampak Cut Off UHC Batang, BPJS Pasien Kronis Nonaktif saat Transfusi, Ini Respon Bupati

Dampak Cut Off UHC Batang, BPJS Pasien Kronis Nonaktif saat Transfusi, Ini Respon Bupati

Ilustrasi transfusi darah-ist-

BATANG, diswayjateng.com - Cut Off UHC Prioritas BPJS Kesehatan Batang berpengaruh terhadap warga tidak mampu yang mempunyai penyakit kronis, semisal Thalasemia.

Di balik tabel dan angka laporan keuangan, muncul kisah nyata pasien penyakit kronis, termasuk anak-anak penderita Talasemia, yang kepesertaan BPJS Kesehatannya terputus mendadak.

Perubahan data dan penyusutan kuota membuat kartu BPJS yang selama ini menjadi penyelamat hidup tiba-tiba berstatus nonaktif.

Potret itu dialami Friantika, pasien Talasemia asal Desa Toso, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang.

BACA JUGA: Kabupaten Batang Tak Lagi UHC, Bagaimana Nasib Layanan Kesehatan Gratis?

BACA JUGA: Batang hingga Pemalang Cut Off UHC, Ini Respon BPJS Kesehatan Pekalongan

Saat hendak menjalani transfusi darah rutin di RSUD Kalisari Batang pada Jumat, 9 Januari 2026, keluarganya mendapati kepesertaan BPJS Friantika sudah tidak aktif.

Orang tuanya terpaksa mondar-mandir dari rumah sakit ke kantor BPJS Kesehatan demi satu hal, menghidupkan kembali kartu yang menentukan nasib sang anak.

Biaya sekitar Rp150 ribu harus dikeluarkan agar layanan medis tetap berjalan.

Nasib serupa dialami Nofa Irawan dan Rizki Nurhidayat, warga Desa Sudoharjo, Kecamatan Bawang.

BACA JUGA: DPRD Batang Soroti Banjir Klidang Lor, Sungai Dangkal dan Parkir Kapal Jadi Biangnya

BACA JUGA: Bidan Delima dari Batang dan Kota Pekalongan Jalani Pembinaan IBI Jateng, Ada Apa?

Saat keduanya menjalani perawatan di RSUD Limpung dan kondisi kesehatan bergantung pada penanganan intensif, status BPJS justru macet.

Keluarga hanya bisa menerima saran untuk melakukan aktivasi mandiri selama satu bulan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: