Haji Boncos
--
Oleh: Wawan Setiawan
Pemimpin Redaksi Diswayjateng.id
NIATNYA suci. Ingin melihat Kakbah. Ingin bersimpuh di Raudhah. Tapi apa daya, takdir berkata lain. Bukannya mencium Hajar Aswad, ribuan calon jemaah kita justru "mencium" lantai kantor polisi.
Tragis. Tapi inilah kenyataan pahit yang baru saja dibongkar oleh Satgas Gakkum Haji dan Umrah Polri.
Angka pelakunya bikin ngelus dada—atau lebih tepatnya bikin jantungan. Ada 32 orang yang resmi jadi tersangka. Mereka ini sukses "menguapkan" uang milik 3.550 orang calon jemaah. Total kerugiannya? Rp 116 miliar! Bayangkan, uang sebanyak itu kalau dibelikan kerupuk, mungkin bisa menenggelamkan Pulau Madura.
Brigjen Pol Mohammad Irhamni, sang komandan satgas, sampai harus turun tangan dari Bareskrim hingga ke polda-polda. Total ada 64 perkara yang digulung.
Kalau ada piala bergilir untuk urusan tipu-menipu ini, Polda Metro Jaya jelas juaranya. Borongannya luar biasa. Hanya dari 4 laporan polisi, korbannya mencapai 3.000 orang. Kerugiannya? Rp 95 miliar sendiri! Aktor utamanya: Hanania Travel. Satu orang sudah resmi pakai baju oranye.
Di Jawa Timur lain lagi. Korban "hanya" 145 orang, tapi tersangkanya masya Allah: 13 orang! Ini mau bikin agen travel atau kesebelasan sepak bola plus pemain cadangan? Kerugian di Jatim tercatat Rp 9,5 miliar. Sementara di Sulawesi Tenggara, 282 orang gigit jari dengan kerugian Rp 8,8 miliar.
Mengapa ini terus berulang? Rumusnya selalu sama, iming-iming harga murah.
Logikanya sederhana. Tiket pesawat terbang itu tidak pakai subsidi kebaikan hati. Hotel di Mekkah dan Madinah juga tidak bisa ditawar pakai doa. Jadi, kalau ada travel yang menawarkan paket haji atau umrah dengan harga yang tidak masuk akal, ya hasilnya pasti tidak masuk ke asrama haji.
Edukasi publik kita rupanya masih kalah cepat dengan kreativitas para penipu. Banyak masyarakat yang saking rindunya ke Tanah Suci, akal sehatnya mendadak cuti. Mereka lupa bahwa penjahat paling lihai adalah mereka yang pandai membungkus keserakahan dengan pakaian takwa.
Polri memang sudah berkomitmen menyikat habis para pelaku. Tapi penegakan hukum itu selalu berada di hilir. Di hulu, kuncinya ada di dompet dan nalar kita masing-masing. Jangan lagi mudah tergiur jargon "Haji Murah".
Ingat, mau ibadah itu butuh niat ikhlas dan dana yang jelas. Kalau cuma modal nekat dan tergiur murah, yang ada bukannya mendapat pahala haji mabrur, tapi malah jadi korban "haji ma… klum" (maklum ketipu maksudnya).
Tapi ya itulah risiko pergi haji lewat jalur gaib yang murah meriah. Begitu ketipu baru sadar kalau travelnya ternyata menganut mazhab "Syaithoniyah". Hiii… (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:





