UMKM di Sragen Tercekik Gegara Harga Plastik
UMKM penjual es teh jumbo di sragen. (mukhtarulhafidh/diswayjateng.id)--Mukhtarul Hafidh / diswayjateng.id
"Kemarin Pak Menteri UMKM sudah bersuara untuk berupaya menekan harga plastik agar tidak naik 100 persen. plastik harus lebih murah dan memihak rakyat kecil karena di Indonesia ini semua sudah serba praktis, tidak bisa kembali ke pincuk daun," kata dia.
Untuk menyiasati kerugian, Bayu terpaksa menaikkan harga di tingkat produksinya, meski tidak setinggi kenaikan bahan baku.
"Mau tidak mau naik, tapi mungkin untuk sisi plastiknya 50 persen. Artinya, ini tetap mengurangi margin pendapatan kami karena plastik es atau gelas itu sekali pakai, tidak bisa dikembalikan seperti galon atau botol kaca," kata dia.
Selain masalah plastik, Bayu juga menyoroti kondisi ekonomi global yang tidak stabil sehingga membuat investor ragu menanamkan modal. Di Sragen sendiri, tantangan investasi tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam.
"Orang mau investasi di zaman dunia tidak stabil ini takut. Di Sragen pun sulit karena masyarakat belum sepenuhnya paham kelebihan investasi. Selain itu, Sragen didominasi oknum-oknum yang mempermainkan harga tanah dan lingkungan. Ini menjadi kendala besar bagi investor," ucap Bayu.
Berbeda dengan sektor manufaktur atau investasi besar, sektor perumahan di Sragen terpantau masih stagnan.
"Untuk perumahan, harga beli turun, progresnya masih biasa saja, tidak ada kenaikan atau penurunan yang signifikan," katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



