TMA Bengawan Solo Turun ke 5,9 Meter, BPBD Solo Minta Warga Jangan Lengah

TMA Bengawan Solo Turun ke 5,9 Meter, BPBD Solo Minta Warga Jangan Lengah

Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Bengawan Solo di kawasan Solo menunjukkan tren penurunan setelah sebelumnya sempat menyentuh level siaga. -Istimewa-

SOLO, diswayjateng.id -- Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Bengawan Solo di kawasan Solo menunjukkan tren penurunan setelah sebelumnya sempat menyentuh level siaga. 

Berdasarkan data telemetri Pos Pantau Jurug, Kamis 5 Maret 2026 sore, TMA tercatat di angka 5,9 meter atau berada pada status siaga hijau.

Penurunan ini terjadi sejak dibukanya pintu pelimpahan air (spillway) di Waduk Gajah Mungkur beberapa hari lalu. Debit air yang sempat meningkat kini mulai terkendali.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Surakarta (BPBD Solo), Ari Dwi Daryatmo, mengatakan tren penurunan terlihat signifikan sejak Kamis pagi sekitar pukul 05.00 WIB.

“Siang tadi TMA berada di 5,9 meter dengan elevasi 82,18 mdpl dan debit sekitar 439 meter kubik per detik. Angka ini sudah berada di bawah siaga kuning,” ujarnya.

Sebelumnya, TMA sempat berada di kisaran 7–8 meter atau masuk kategori siaga kuning. Meski kondisi kini relatif lebih aman, BPBD menegaskan kewaspadaan tetap menjadi prioritas.

Koordinasi Intensif Antarlembaga

BPBD Solo terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo serta Perum Jasa Tirta I Wonogiri guna memantau potensi tambahan debit air dari hulu.

Selain itu, kesiapan infrastruktur pengendali banjir seperti pompa air dan pintu air drainase di sejumlah titik rawan juga dipastikan dalam kondisi siap operasi apabila terjadi kenaikan debit secara tiba-tiba.

“Kami memastikan seluruh pompa di Solo siap digunakan jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan TMA. Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi, sehingga pengawasan tetap kami perketat,” jelas Ari.

BPBD Solo meminta pemerintah kecamatan, kelurahan, serta masyarakat untuk terus memantau perkembangan kondisi sungai dan meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang bermukim di bantaran sungai.

Penurunan TMA memang membawa kabar baik, namun potensi perubahan cuaca dan tambahan debit air dari hulu tetap menjadi faktor yang harus diantisipasi bersama.

“Kami mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tidak lengah dan tetap siaga menghadapi setiap kemungkinan,” pungkasnya.

Jika Anda ingin, saya bisa buatkan versi yang lebih analitis dengan menyoroti manajemen pengendalian banjir Bengawan Solo dan kesiapan infrastruktur Solo menghadapi cuaca ekstrem.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait