Menuju Harmonisasi Tradisi dan Teknologi

Menuju Harmonisasi Tradisi dan Teknologi

--

Jika seorang perukyat mengaku melihat hilal saat posisi bulan secara astronomis masih di bawah ufuk atau belum mengalami konjungsi, maka prinsip kehati-hatian (ikhtiyat) menuntut kita untuk menguji klaim tersebut.

Bukankah jari-jari Matahari yang mencapai 695.700 km dengan cahayanya yang masif akan mustahil menyisakan ruang bagi pantulan cahaya bulan yang hanya berjari-jari 1.737 km jika jarak sudut (elongasi) keduanya masih terlalu rapat? Ini ibarat mencoba melihat kerlip sebatang lilin di samping lampu sorot stadion yang sedang menyala benderang. 

Menolak klaim rukyat yang mustahil secara astronomis bukanlah bentuk pengabaian terhadap saksi, melainkan bentuk penjagaan agar umat tidak memulai ibadah di atas fondasi kekeliruan.

Dengan demikian, tidak ada yang lebih unggul. Tanpa Rukyat, kita kehilangan dimensi spiritualitas dan ketaatan pada tradisi. Tanpa Hisab, Rukyat kita rentan tersesat dalam ketidakpastian atmosfer dan subjektivitas mata manusia. Keduanya adalah sepasang instrumen yang dianugerahkan Allāh: satu melalui wahyu (qauliyah), satu melalui keteraturan alam (kauniyah).

Menuju Harmonisasi Tradisi dan Teknologi

Kita tidak perlu lagi mempertentangkan Hisab dan Rukyat sebagai dua kutub yang saling menghancurkan. Sebaliknya, kita perlu menempatkan keduanya dalam hubungan yang saling menguji.

Hisab menyediakan 'peta kemungkinan' yang presisi, sementara Rukyat adalah 'pembuktian faktual' di lapangan. Rukyat adalah bentuk ketaatan pada teks hadits, sedangkan Hisab adalah bentuk ketaatan pada Sunnatullah yang tertuang dalam hukum-hukum alam (astronomi).

Dengan memahami bahwa "Bulan itu satu tapi Hilal itu banyak," kita bisa lebih toleran terhadap perbedaan matla' (batas wilayah keberlakuan rukyat). Kita juga bisa mulai membangun kriteria visibility/as hilal yang lebih ilmiah dan disepakati bersama, seperti kriteria MABIMS yang mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Kriteria ini bukan dibuat untuk menyulitkan, melainkan untuk memastikan bahwa apa yang kita klaim sebagai "Hilal" benar-benar nyata secara empiris, bukan sekadar imajinasi kolektif.

Al-Qur’an telah memberikan isyarat bahasa yang luar biasa melalui perbedaan kata Qamar dan Ahillah. Pesan ini mengajak kita untuk cerdas dalam beragama: mengakui ketunggalan kekuasaan Allāh di langit, namun menghargai keragaman pengalaman manusia di bumi.

Teknologi seperti Stellarium atau perhitungan algoritma astronomi bukanlah musuh iman. Mereka adalah kacamata modern yang membantu kita melihat tanda-tanda kebesaran-Nya dengan lebih jernih. 

Dengan menyelaraskan akurasi hisab dan ketulusan rukyat, kita tidak hanya mendapatkan kepastian tanggal, tetapi juga mendapatkan kedamaian dalam beribadah. Langit dan teknologi, tradisi dan sains—keduanya harus berjalan beriringan di bawah naungan cahaya hilal yang sama.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: