Menuju Harmonisasi Tradisi dan Teknologi

Menuju Harmonisasi Tradisi dan Teknologi

--

Namun, ketika berbicara tentang fungsi penanggalan, Al-Qur’an mengganti istilah Qamar menjadi Hilal. Kata ini hanya muncul satu kali, yaitu dalam Surat Al-Baqarah (2): 189, dan ia muncul dalam bentuk jamak: Al-Ahillah.

"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit (al-ahillah). Katakanlah, 'Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji...'" Mengapa untuk ben=da yang satu (Bulan), Allāh menggunakan kata jamak (Ahillah) saat mengaitkannya dengan waktu manusia? Di sinilah sains dan agama bertemu secara elegan. 

Secara astronomis, "Hilal" bukanlah benda langitnya, melainkan "fenomena penampakan" pantulan cahaya matahari pada permukaan bulan yang terlihat dari Bumi.

Karena Bumi bulat dan luas, posisi pengamat di Jakarta akan berbeda dengan pengamat di Maroko atau Los Angeles. Perbedaan posisi geografis ini menyebabkan perbedaan sudut pandang.

Di satu tempat, bulan mungkin sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian yang cukup untuk terlihat (Hilal sudah "wujud"), sementara di tempat lain bulan masih berada di bawah ufuk. 

Oleh karena itu, Hilal bersifat lokal dan plural (Ahillah), sedangkan Bulan bersifat global dan tunggal (Qamar). Inilah alasan mengapa awal Ramadhan bisa berbeda antar wilayah: karena kita tidak melihat "Bulan" yang sama pada saat yang sama, melainkan melihat "Hilal" (fenomena cahaya) yang muncul secara bergantian sesuai perputaran Bumi.

Hisab sebagai "Filter" Kejujuran

Integrasi antara teks suci dan sains semakin krusial saat kita memasuki ranah pembuktian di lapangan. Hadits Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk berpuasa dan berbuka (Idulfitri) karena melihat hilal (li-ru'yatihī).

Di masa lalu, rukyat atau pengamatan visual adalah satu-satunya teknologi yang tersedia. Namun kini, kita memiliki Hisab modern yang tingkat presisinya sangat tinggi.

Hisab memberi kita data tentang ketinggian bulan, sudut elongasi (jarak sudut antara bulan dan mataha=ri), hingga lama waktu bulan di atas ufuk. Misalnya, jika data astronomi menunjukkan ketinggian bulan hanya 0,5 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam, maka secara sains hilal tersebut mustahil bisa dilihat dengan mata telanjang karena cahaya senja (syafaq) masih terlalu terang, "menelan" cahaya tipis dari bulan sabit muda yang jaraknya mencapai ratusan ribu kilometer itu.

Di sinilah muncul persoalan pelik: bagaimana jika ada seseorang bersumpah telah melihat hilal, padahal data hisab menunjukkan hilal mustahil terlihat? Dalam tradisi hukum klasik, sumpah seorang Muslim sering kali dianggap cukup sebagai bukti. Namun, di era di mana ilmu pengetahuan telah mencapai tingkat kepastian tinggi, kita harus lebih bijak.

Sumpah memang sakral, namun persepsi manusia bisa keliru. Mata manusia rentan terhadap halusinasi, pantulan cahaya planet Venus, atau bahkan awan yang menyerupai sabit. Menolak kesaksian yang bertentangan dengan data ilmiah yang sahih bukanlah bentuk pengabaian terhadap agama. 

Sebaliknya, itu adalah upaya melindungi agama dari fitnah dan spekulasi. Jika posisi Bulan belum memungkinkan terbentuknya Hilal menurut perhitungan yang presisi, maka klaim penglihatan tersebut harus ditolak demi menjaga kebenaran ibadah.

Rukyat dan Prinsip Kehati-hatian (Ikhtiyat)

Menempatkan Hisab sebagai alat bantu Rukyat bukan berarti merendahkan kedudukan hadits Nabi. Justru, ini adalah bentuk penghormatan terhadap kesucian ibadah agar tidak dicemari oleh kesalahan manusiawi (human error).

Kita harus jujur mengakui bahwa rukyat yang dilakukan tanpa kehati-hatian dan tanpa panduan sains sangat rentan terhadap distorsi.

Atmosfer bumi kita penuh dengan tantangan: mulai dari polusi cahaya, uap air, hingga debu vulkanik yang bisa membiaskan cahaya bintang atau planet (seperti Venus atau Merkurius) sehingga tampak seperti sabit tipis di ufuk. Belum lagi faktor psikologis "keinginan untuk melihat" yang sering kali memicu halusinasi penglihatan. Di sinilah Hisab berperan bukan sebagai "tuan", melainkan sebagai "pagar pengaman".

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: