Menanti Uluran Tangan di Rumah Bambu Rapuh Blora

Menanti Uluran Tangan di Rumah Bambu Rapuh Blora

Samijah (71), warga Desa Gagakan, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, tersebut harus menjalani hidup seorang diri dalam ketidakberdayaan ekonomi. - diswayjateng/ezra ---

BLORA, diswayjateng.id — Dinding bambu lapuk yang hanya tertutup helai kain bekas dan lembaran plastik menjadi peneduh harian Samijah (71). Di usia senjanya, warga Desa Gagakan, Kecamatan Sambong, Kabupaten BLORA, Jawa Tengah, tersebut harus menjalani hidup seorang diri dalam ketidakberdayaan ekonomi.

Rumah berukuran sekitar 8x8 meter yang dihuni Samijah sejak kecil kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Lantainya masih berupa tanah keras, tiang penyangga bangunan mulai rapuh terakan usia, dan gentengnya kerap bocor saat hujan menerpa.

Samijah tercatat masuk dalam kelompok Desil 1 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kategori ini menempatkannya dalam kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah atau berada di lingkaran kemiskinan ekstrem.

BACA JUGA:  Lahan Tebu Enam Hektar di Kudus Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp 210 Juta

BACA JUGA:  Kebakaran Mengintai, DPRD Batang Dorong Tambahan Pos dan Mobil Damkar

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Samijah masih memasak dan mengurus fisiknya secara mandiri. Kebutuhan hidupnya bertumpu pada kucuran bantuan sosial dari pemerintah, uluran tangan tetangga sekitar, serta kiriman dari anak-anaknya.

Dari empat anaknya, anak tertua bernama Pridasi telah meninggal dunia. Tiga anak lainnya, yakni Marni, Kasri, dan Parji, hidup terpisah di luar daerah seperti Rembang, Purbalingga, dan Kecamatan Cepu.

"Kalau bantuan dapat, untuk kehidupan sehari-hari saya masak sendiri," tutur Samijah saat ditemui mengenai kondisi kehidupannya sehari-hari.

Kondisi keprihatinan yang dialami Samijah memicu perhatian dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Blora. Petugas langsung diterjunkan untuk melakukan asesmen awal terhadap lansia tersebut.

Kepala Dinsos P3A Kabupaten Blora Luluk Kusuma Agung Ariadi menyampaikan bahwa verifikasi lapangan ini penting untuk memastikan hak-hak sosial Samijah tetap terpenuhi secara berkelanjutan.

"Kami sudah melakukan asesmen awal. Untuk saat ini semua bantuan sosialnya aktif. Terkait rumah, akan kami koordinasikan dengan OPD terkait, Baznas, dan IPSM," kata Luluk.

Luluk menambahkan, keberadaan warga dalam kelompok Desil 1 menjadi prioritas mendesak bagi pemerintah daerah. Data tersebut menjadi acuan utama dalam penentuan sasaran bantuan sosial serta skema intervensi pembangunan.

Berdasarkan pemutakhiran data sosial ekonomi per April 2026, kantong-kantong kemiskinan di Blora masih cukup tersebar. Di Kecamatan Sambong, tercatat 3.621 warga masuk Desil 1, 4.092 warga Desil 2, dan 2.199 warga Desil 3, dengan akumulasi mencapai 9.912 warga.

Sementara itu, wilayah tetangganya, Kecamatan Jiken, mencatatkan beban data yang sedikit lebih tinggi. Di kecamatan tersebut terdapat 4.521 warga pada Desil 1, 3.090 warga Desil 2, dan 2.482 warga Desil 3, yang secara keseluruhan membawahi 10.093 warga rentan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait