Ribuan Benih Ikan Ditebar di Kalipancur, 23 Desa Batang Ikut Program Budidaya Tematik

Kamis 05-11-2026,09:10 WIB
Reporter : Bakti Buwono
Editor : Laela Nurchayati

Menurut dia, program tersebut dirancang untuk mendukung pembangunan kolam budidaya dengan sistem resirkulasi air. Sistem ini memanfaatkan sirkulasi kembali air agar penggunaannya lebih efisien.

BACA JUGA:Hujan Telah Turun, Tapi Sumur Warga Jatinegara Tegal Masih Kering Kerontang

BACA JUGA:BRI Kukuhkan 35 Jurnalis Penerima Beasiswa Pascasarjana melalui BRI Fellowship Journalism 2026

Jenis ikan yang dibudidayakan dapat berupa lele atau nila, sesuai usulan masing-masing desa.

Meski demikian, pengajuan belum berarti bantuan sudah ditetapkan atau dicairkan. Tuti menjelaskan, setiap lokasi masih harus melalui verifikasi lapangan, termasuk pemeriksaan tata ruang dan kondisi sumber air.

Tahapan selanjutnya melibatkan proses verifikasi pemerintah pusat sebelum penetapan melalui surat keputusan. Program ini diharapkan mendorong desa mengembangkan kegiatan budidaya yang sesuai dengan kondisi wilayahnya.

Pengelolaan usaha nantinya berpeluang melibatkan badan usaha milik desa (BUMDes), kelompok masyarakat, maupun Karang Taruna. Dengan pola tersebut, kegiatan budidaya diharapkan tidak berhenti pada pembangunan sarana, tetapi berkembang menjadi usaha produktif.

Lele dan Nila Mendominasi Budidaya

Tuti menjelaskan, lele dan nila menjadi komoditas dominan dalam perikanan budidaya air tawar di Batang. Sementara itu, komoditas perairan payau meliputi bandeng, udang vannamei, dan nila salin.

Berdasarkan data yang disampaikan, luas tambak di Kabupaten Batang mencapai 284 hektare. Adapun luas budidaya air tawar tercatat 20,2 hektare.

Jumlah pembudidaya tercatat sebanyak 443 orang, dengan 46 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan).

Untuk mendukung penyediaan benih, Batang memiliki unit pembenihan rakyat (UPR) yang menyediakan benih lele. Benih nila juga tersedia melalui Balai Benih Ikan (BBI).

Tuti menilai potensi budidaya masih dapat dikembangkan lebih jauh. Namun, peningkatan produksi perlu diimbangi dengan kemampuan pembudidaya mengelola biaya dan memasarkan hasil panen.

Harga Pakan dan Modal Masih Jadi Tantangan

Di balik peluang pengembangan budidaya, pembudidaya masih menghadapi tekanan biaya produksi. Harga pakan yang tinggi menjadi salah satu kendala yang memengaruhi kebutuhan modal.

“Untuk kendalanya kalau budidaya itu kendalanya kebanyakan pakannya sekarang ya. Mahal,” kata Tuti.

Menurut dia, pembudidaya yang mengalami kendala dapat mengajukan proposal bantuan kepada dinas. Pengajuan juga bisa disampaikan melalui aspirasi anggota dewan.

Namun, bantuan tetap menyesuaikan ketersediaan anggaran. Pemerintah daerah juga dapat mengupayakan dukungan melalui program pemerintah provinsi apabila tersedia.

Kategori :