Panitia menghadirkan sejumlah narasumber dari dunia perbatikan, termasuk maestro batik Dudung dan pemerhati batik William.
Dukungan Bank Indonesia turut melengkapi agenda edukasi batik dalam perhelatan tersebut.
Salah satu cerita yang menarik ialah perjalanan Batik Tulis Rifaiyah, warisan ulama KH Ahmad Rifa’i.
Tradisi tersebut mengajarkan nilai ibadah melalui aktivitas membatik yang diwariskan kepada para perajin.
Dari 28 motif yang diciptakan, setidaknya 16 motif telah teridentifikasi.
Di antaranya motif pelo ati dan motif ayam yang digambarkan melalui stilisasi bentuk.
Nuansa tradisi juga diperkuat dengan rencana penggunaan pakaian bermotif Sogan Batang oleh panitia dan jajaran internal Pemkab Batang.
Berburu Kuliner Jadul, Lanjut Goyang Bareng Ndarboy
Buat pengunjung yang lebih suka wisata rasa, Kenduri Batik juga menghadirkan kuliner khas Batang.
Sejumlah hidangan tradisional akan meramaikan acara dengan cita rasa yang lekat dengan keseharian masyarakat.
Wahyu menyebut ikan wader dengan beras merah dari Wonotunggal sebagai salah satu kuliner yang diangkat.
Ada pula lontong lemprak dari kawasan Alun-alun Batang dan serabi Kalibeluk.
Pecel khas Batang juga masuk dalam daftar kuliner yang diperkenalkan kepada pengunjung.
“Kita angkat UMKM khusus kuliner yang menjadi makanan favorit di Kabupaten Batang. Contohnya dari Wonotunggal ada hidangan ikan wader dengan beras merah. Lalu ada lontong lemprak Alun-alun, serabi Kalibeluk, hingga pecel khas yang mungkin banyak masyarakat luar belum tahu,” jelasnya.
Rangkaian acara dijadwalkan berlangsung sejak pagi hingga malam hari.
Panggung hiburan masyarakat menjadi penutup agenda, dengan Ndarboy Genk dijadwalkan tampil pada penghujung acara.
Kehadiran penyanyi yang dikenal lewat musik dangdut pop tersebut diperkirakan menjadi magnet bagi penonton.