BATANG, diswayjateng.id – Pola penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai bergeser dari sistem ompreng ke konsep prasmanan. Uji coba pola tersebut berlangsung di SMP Negeri 2 Kandeman, Kabupaten Batang, sejak Senin 5 Oktober 2026.
Dalam sistem prasmanan, makanan ditempatkan dalam loyang atau wadah saji sebelum diambil siswa. Mereka kemudian mengambil makanan sendiri sesuai mekanisme yang ditetapkan sekolah dan diperbolehkan menambah apabila masih terdapat makanan.
Uji coba secara keseluruhan dijadwalkan berlangsung selama dua pekan. Untuk SMP Negeri 2 Kandeman, pelaksanaannya dilakukan selama lima hari hingga Jumat 9 Oktober 2026, dengan melibatkan dua kelas setiap hari.
Setiap kelas terdiri sekitar 32 siswa sehingga terdapat 64 penerima MBG dalam uji coba setiap harinya. Pada Kamis 8 Oktober 2026, giliran kelas 9C dan 9D yang mengikuti penyajian MBG secara prasmanan.
BACA JUGA: 72 PPPK Paruh Waktu Batang Tak Diperpanjang, Mayoritas Mengundurkan Diri
BACA JUGA: Geger, Grand Livina Terbakar di Jalur Wisata Gerlang Batang
Sehari sebelumnya, pola serupa diterapkan untuk kelas 9A dan 9B. Penerapan secara bergiliran dilakukan untuk melihat respons siswa sekaligus mengevaluasi teknis pelaksanaan di lingkungan sekolah.
Plt Kepala SMP Negeri 2 Kandeman Adam Malik mengatakan, siswa menunjukkan antusiasme terhadap sistem penyajian baru tersebut. Salah satu alasannya karena makanan dinilai masih hangat dan lebih segar ketika disantap.
“Anak-anak sangat antusias karena menunya masih hangat dan lebih segar dibandingkan kalau memakai ompreng. Tadi ada kelas yang karena bergiliran malah minta prasmanan, tidak mau yang ompreng,” kata Adam Malik.
Menurut Adam, respons tersebut menjadi salah satu pertimbangan sekolah untuk mendukung keberlanjutan sistem prasmanan setelah masa uji coba. Namun, penerapannya tetap perlu menyesuaikan kondisi masing-masing lingkungan sekolah.
BACA JUGA: Truk Diduga Rem Blong Terguling di Gringsing Batang, Video Warga Ambil Muatan Viral
BACA JUGA: 330 Kursi Perangkat Desa Kosong, Tim Mabes Polri ke Batang
SMP Negeri 2 Kandeman dipilih sebagai salah satu lokasi uji coba karena letaknya relatif dekat dengan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ujungnegoro. Kedekatan tersebut dinilai memudahkan pengiriman maupun penanganan apabila terdapat kekurangan dalam kelengkapan makanan.
“Informasi dari SPPG karena SMP 2 Kandeman dekat dengan dapur SPPG Ujungnegoro. Kalau ada yang kurang, bisa lebih cepat mengambilnya dibandingkan sekolah lain yang jauh dari dapur,” ujarnya.
Meski demikian, Adam menyebut kondisi geografis bangunan sekolah menjadi tantangan tersendiri. Sebagian ruang kelas berada di bagian bawah dan harus diakses melalui tangga dengan kemiringan cukup curam.