Ancaman Algoritma Medsos, Kapolresta Batang Serukan Gen Z Peace

Senin 07-09-2026,18:37 WIB
Reporter : Bakti Buwono
Editor : Bakti Buwono

“Nanti semacam FKUB Gen Z gitu,” ujarnya.

Warsono mengatakan, forum semacam itu dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk terlibat langsung dalam menjaga toleransi dan membangun komunikasi lintas kelompok. Ia juga mendorong agar jaringan forum kerukunan tidak hanya berada di tingkat kabupaten, tetapi dapat menjangkau kecamatan hingga desa.

Menurutnya, pola tersebut memungkinkan nilai toleransi lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dan tidak berhenti sebagai pembahasan antarlembaga.

“Kalau di waktu di Klaten itu dia ada. Ini kan tatarannya kabupaten, ya. Tapi dia punya berbasis di kecamatan dan bahkan ke desa,” ungkapnya.

Warsono kemudian menyoroti kembali ancaman algoritma media sosial yang dinilainya berpotensi mempersempit ruang seseorang dalam menerima informasi berbeda. “Jadi perpanjangan tangan dari FKUB sampai basisnya sampai dengan desa,” jelasnya.

Menurut dia, algoritma media sosial dapat membuat seseorang terus mendapatkan konten yang memiliki kecenderungan serupa dengan apa yang sebelumnya ditonton, disukai, atau dicari.

Jika tidak dibarengi kemampuan menyaring informasi, seseorang berpotensi hanya mengenal satu sudut pandang dan menganggapnya sebagai kebenaran tunggal. “Kalau saya melihatnya ya itu. Di era digital ini kan sangat potensi untuk kerawanannya,” ungkapnya.

Warsono menggambarkan bagaimana paparan informasi serupa secara terus-menerus dapat membentuk persepsi yang semakin kuat pada pengguna media sosial.

BACA JUGA:Wakapolres Purworejo Berganti, Sejumlah Personel Berprestasi Diganjar Penghargaan

“Kalau memang sehari-hari dengan algoritma media sosial itu diberikan hal seperti itu, akhirnya dia membuat persepsi yang meyakinkan, akhirnya tidak mau menerima yang lain,” jelasnya.

Menurutnya, persoalan menjadi lebih serius ketika seseorang mulai kehilangan kemampuan menerima pandangan berbeda.

Kondisi tersebut berpotensi membuat masyarakat terkotak-kotak berdasarkan keyakinan, persepsi, atau informasi yang mereka konsumsi.

“Nah, ini yang berbahaya. Jadi dia akhirnya terkotak-kotak. ‘Saya, saya. Dia, dia,’ gitu. Jadi seperti tidak bisa membaur,” ungkapnya.

Karena itu, Warsono menilai pendidikan karakter bagi Gen Z tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan menggunakan teknologi dan bermedia sosial. Generasi muda juga perlu tetap dibekali nilai sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Ia menyebut sejumlah nilai yang dinilai masih relevan menghadapi perubahan zaman, seperti tepo seliro, andhap asor, guyub rukun, gotong royong, dan kerja sama.

“Itu tadi, mungkin dari nenek moyang ada tepo seliro, andhap asor, guyub rukun, gotong royong, kerja sama,” tuturnya.

Kategori :