TEGAL, diswayjateng.id – Acara Moci Bareng bertajuk ”Mbangun Kota Tegal Apike Luruh ’Wah’ Apa ’Woh’ yang diinisiasi Rumah Sastra Piek Ardijanto Soperijadi berlangsung dinamis. Acara ini menjadi panggung bedah aspirasi warga Tegal yang merindukan pembangunan berbasis kemanfaatan nyata (woh), bukan sekadar polesan estetika yang mewah (wah).
Penyelenggara sekaligus Motor Rumah Sastra Piek Ardijanto Suprijadi, Dyanindra Srikumara, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran berbagai elemen masyarakat. Mulai dari jajaran birokrasi, budayawan, hingga pegiat literasi yang tumpah ruah mengawal arah pembangunan kota. "Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang hadir. Kolaborasi ini luar biasa, mulai dari drum yang memeriahkan acara, para sesepuh dari tiga daerah, Wakil Wali Kota Tegal, hingga jajaran legislatif," ujar Nindra. Selain Gola A Gong, hadir Wakil Wali Kota Tegal Hj. Iin Takziyatul Mutmainnah, juga Sekretaris Komisi III DPRD Kota Tegal yang membidangi pariwisata, Hj. Nur Fitriani Nadirin Maskha, SE, AKt, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dewi Umaroh, SPSi, MH, serta Ketua Tim Penerjemah Bahasa Tegal, KH. Muharso, SH, MM, Ketua PD MUhammadiyah Kota Tegal, dr. Wahyu Heru Triyono, M.Kes, Tokoh Tiga daerah, Dr Maufur, Budayawan Atmo Tan Sidik, Ahli Tata Kota Abdullah Sungkar, Sastrawan M. Enthieh Mudakir, Iwang Nirwana, Suriali Andi Kustomo (Ketua DKT), hingga dalang Ki Anton Surono. Budayawan Tegal, Atmo Tan Sidik, menyoroti hasil angket publik yang menjadi pemantik diskusi. Data menunjukkan mayoritas masyarakat Tegal lebih mendambakan pembangunan yang menyentuh fungsi esensial bagi kesejahteraan warga. "Kalau melihat hasil angket, mayoritas publik jelas memilih kemanfaatan (woh) daripada sekadar display atau kemewahan (wah). Publik ingin proses menuju pembangunan Kota Tegal ini berjalan lurus dan transparan," tegas Atmo. Menurut Atmo, di era digital atau abad informasi saat ini, pemerintah tidak bisa lagi bersembunyi dalam merumuskan kebijakan. Segala gerak-gerik eksekutif maupun legislatif langsung berada di bawah radar pengawasan masyarakat. "Kita berada di abad informasi. Kasarnya, kita 'kentut' sedikit saja, seluruh dunia bisa mendengar. Artinya, semua proses kebijakan terpantau penuh oleh publik. Ini realitas yang harus diterima semua pemangku kebijakan," selorohnya dengan analogi yang tajam. Di sisi lain, diskusi ini juga mengapresiasi ruang dialektika yang sejuk melalui tulisan. Atmo bersyukur kolom renungan yang ditulis oleh tokoh pendidikan, Prof. Dr. Sitti Hartinah, DS, MM, MHum , mendapat respons positif dari masyarakat luas. "Tulisan tersebut menjadi contoh kritik yang indah. Isinya tajam, tidak menyakiti pihak mana pun, tetapi berhasil membuat semua pihak terdiam dan merenung demi kemajuan Kota Tegal," pungkasnya.