Marak Aksi Tawuran Pelajar di Tegal, Begini Respon DPRD

Rabu 10-06-2026,08:00 WIB
Reporter : Yeri Noveli
Editor : Adi Mulyadi

SLAWI, diswayjateng.id – Aksi tawuran pelajar di Kabupaten Tegal marak terjadi. Tidak main-main, pelaku bahkan kian nekat dengan membawa senjata tajam.

Hal ini menjadi sorotan serius Anggota DPRD Kabupaten Tegal, Bagus Sakti Maulana. Dia mengingatkan bahwa pencegahan kekerasan remaja tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah.

Peran keluarga, lingkungan dan masyarakat dinilai menjadi benteng utama agar anak-anak tidak terjerumus dalam pergaulan yang berujung kekerasan.

Tren Tawuran Pelajar di Tegal

Politisi Partai Golkar itu mengaku prihatin dengan tren tawuran pelajar yang belakangan semakin sering terjadi. Tidak hanya sekadar adu fisik, para pelajar yang terlibat tawuran bahkan kerap membawa senjata tajam seperti celurit, pedang, hingga senjata berbahaya lainnya.

BACA JUGA: Ciptakan SDM Berkualitas Mahasiswa Teknik Mesin UPS Tegal Laksanakan PKL di PT. Biduri Putra Teknik

BACA JUGA: Sinergi Universitas Harkat Negeri dengan Radar Tegal Group Kian Mantap untuk Perkuat Layanan Informasi Publik

“Kalau regulasi di sekolah, saya kira sudah benar. Tidak mungkin sekolah mengajarkan tawuran,” kata Bagus, Selasa, 9 Juni 2026.

Faktor Pemicu

Menurutnya, ada sejumlah faktor yang memicu pelajar terlibat tawuran. Mulai dari salah pergaulan hingga minimnya perhatian dan pengawasan dari orang tua di rumah. 

Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama dan tidak hanya mengandalkan pihak sekolah.

Bagus menilai setiap sekolah sudah saatnya memiliki tim pencegahan dan penanganan kekerasan yang melibatkan berbagai unsur. Tidak hanya guru dan tenaga kependidikan, tetapi juga orang tua, masyarakat sekitar, pengurus RT/RW, pemerintah daerah hingga psikolog.

BACA JUGA: Polres Tegal Gagalkan Aktivitas Balap Liar, Respon Cepat Call Center 110

BACA JUGA: Adek Aniaya Kakak Kandung di Tegal, Korban Dirawat Intensif di Rumah Sakit

“Mestinya setiap sekolah membentuk tim pencegahan kekerasan. Tim itu terdiri dari orang tua, guru, tenaga kerja di sekolah, lingkungan sekitar, masyarakat, RT, RW tempat sekolah berada. Pemerintah daerah dan psikolog juga dilibatkan, jadi lebih luas cakupannya,” ujarnya.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal itu menegaskan, peran orang tua menjadi faktor paling menentukan. Sebab, waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah dibandingkan di sekolah. 

Sayangnya, masih banyak pola pengasuhan yang dinilai kurang tepat karena membiarkan anak berkembang tanpa arahan dan pendampingan yang memadai.

Kategori :