PEKALONGAN, diswayjateng.id – Dunia perbankan pernah menjadi bagian penting dalam hidup Nurita Wahyu Kusuma.
Perempuan asal Pekalongan itu merupakan lulusan ekonomi dengan pengalaman bekerja di sejumlah perusahaan perbankan dan tekstil.
Namun hidup membawanya ke jalan berbeda.
Kehamilan membuat Nurita memilih berhenti bekerja.
BACA JUGA: Belajar “Cashless” di Balik Jeruji, Saat Rutan Pekalongan Menolak Uang Tunai
BACA JUGA: Cerita Revolusi Cashless Rutan Pekalongan, Dari Sidak Kotak Uang hingga Brizzi
Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia batik.
“Karena hamil risiko tinggi akhirnya saya resign,” ujar Nurita.
Sebelum benar-benar terjun ke bisnis batik, Nurita mengaku hanya membantu menjual produk milik pemilik kos tempat dirinya tinggal di kawasan Pesindon, Kampung Batik Pekalongan.
Lingkungan tersebut perlahan mengenalkannya pada dunia batik.
Awalnya, Nurita hanya menjadi perantara penjualan.
BACA JUGA: Di Batang, Limbah Bisa Serap Tenaga Kerja di Aulia Nabila Craft
BACA JUGA: Enam Tahun Dibina BRI, UMKM Limbah Asal Batang Ini Tembus Inacraft
Namun pesanan terus berkembang. Pelanggan mulai meminta model dan warna khusus.
Permintaan itu membuat Nurita mulai memahami selera pasar.