“Mudah-mudahan dengan sistem baru ini lebih tahan. Jadi digali semua sampai bawah yang rusak, dikasih trucuk, lalu diperkuat baru dilakukan pengaspalan,” ujarnya.
Kerusakan jalan di Kota Semarang disebut tidak lepas dari tingginya aktivitas kendaraan berat yang melintas di jalur perkotaan. Jalan kota yang hanya memiliki kapasitas tertentu dinilai tidak mampu menahan tekanan kendaraan dengan muatan berlebih secara terus-menerus.
Suwarto mengungkapkan, rata-rata jalan kota hanya memiliki kapasitas maksimal sekitar delapan ton. Sementara kendaraan yang melintas diduga memiliki beban jauh di atas batas kemampuan jalan.
“Kalau jalan kota itu kelas dua, kapasitasnya sekitar 8 ton. Tapi yang melintas ini kelihatannya lebih dari itu sehingga merusak kualitas jalan,” ungkapnya.
Meski demikian, DPU Kota Semarang disebut tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan terhadap kendaraan overload. Penanganan terkait tonase kendaraan disebut telah dibahas bersama Satlantas dan instansi terkait lainnya.
Aktivitas truk galian c juga diduga ikut memicu percepatan kerusakan jalan di sejumlah ruas Kota Semarang. Kendaraan berat tersebut disebut berkaitan dengan aktivitas pembangunan jalan tol di kawasan Kaligawe.
Untuk sementara, perbaikan masih dilakukan menggunakan aspal karena penanganan baru difokuskan pada titik-titik kerusakan tertentu dan belum dilakukan secara menyeluruh. Ke depan, opsi betonisasi hingga overlay total disebut akan dikaji Pemerintah Kota Semarang.
“Mudah-mudahan perbaikan ini bisa bertahap dan segera tuntas,” tuturnya.(sul)