Ancaman Hantavirus dan Leptospirosis Mengintai Semarang, Dinkes Gencarkan Pemberantasan Tikus

Senin 11-05-2026,17:24 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Wawan Setiawan

 

“Ini yang kemudian sejak 2025 kami sampaikan kepada masyarakat agar melakukan PTP atau Pemberantasan Tikus Permukiman supaya kasus Lepto bisa dikendalikan,” jelas Abdul Hakam. 

 

Menurutnya, peningkatan kasus Leptospirosis pada 2026 dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari perubahan iklim, kelembapan udara, kondisi sanitasi lingkungan, hingga perilaku hidup bersih masyarakat yang masih rendah. 

 

“Kalau suhu, kelembapan, lingkungan, dan perilaku hidup sehat masyarakat tidak baik, maka risiko terpapar Lepto menjadi sangat tinggi,” ungkapnya. 

 

Sebagai langkah pencegahan Hantavirus dan Leptospirosis, Dinkes Kota Semarang terus menggencarkan edukasi kesehatan melalui program Gembira Ria atau Gerakan Buka Jendela dan Pintu Rumah. Program tersebut juga diiringi anjuran membersihkan rumah serta melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari. 

 

Melalui program itu, masyarakat diharapkan dapat menciptakan lingkungan rumah yang sehat dan tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus. 

 

“Kalau sinar matahari bisa masuk, udara keluar masuk, rumah dibersihkan, maka tikus tidak akan nyaman berkembang di lingkungan rumah,” katanya. 

 

Selain menjaga kebersihan rumah, warga juga diminta melakukan pemasangan perangkap tikus tertutup untuk mengurangi risiko penularan penyakit. Penggunaan perangkap lem tidak dianjurkan karena dinilai dapat membuat tikus stres dan mengeluarkan urine di berbagai tempat. 

 

“Kalau pakai lem, tikus akan gelisah dan bisa kencing di mana-mana. Maka lebih baik menggunakan perangkap tertutup,” ujarnya. 

Kategori :