SLAWI, diswayjateng.com - Nama Indonesia kembali menggema di panggung keamanan siber internasional. Kali ini datang dari sudut desa di Kabupaten Tegal. Danang Avan Maulana (25), pemuda dari lereng Gunung Slamet Kecamatan Bojong, sukses mencatatkan prestasi membanggakan dengan tampil di konferensi hacker kelas dunia, DEF CON.
Bukan sekadar hadir sebagai peserta, Avan—sapaan akrabnya—justru dipercaya mempresentasikan risetnya dalam sesi bergengsi Demo Labs. Sebuah panggung yang hanya diisi oleh individu-individu terpilih dari seluruh dunia dengan standar seleksi ketat.
Ajang internasional tersebut digelar pada 28–30 April 2026 di Marina Bay Sands Expo and Convention Centre, Singapura. Meski dikenal identik dengan Las Vegas, edisi Asia ini tetap menghadirkan atmosfer kelas dunia yang sarat inovasi dan teknologi mutakhir.
“Ini bukan kompetisi utama, tapi konferensi global yang di dalamnya ada berbagai sesi seperti presentasi riset, workshop, hingga challenge seperti CTF. Saya sendiri mengikuti sesi presentasi Demo Labs,” ungkap Avan, Senin (4/5/2026).
Menariknya, dari Indonesia, hanya Avan yang berhasil lolos seleksi untuk tampil di sesi tersebut. Sementara peserta lain dari Tanah Air hadir sebagai pengunjung umum.
Dalam presentasinya, Avan memperkenalkan proyek inovatif bernama Pretexta. Platform ini dirancang untuk mensimulasikan skenario social engineering, jenis serangan siber yang menjadikan manusia sebagai titik lemah utama dalam sistem keamanan.
“Inovasi ini fokus pada peningkatan kesadaran dan kesiapan menghadapi ancaman berbasis manipulasi psikologis. Karena sejatinya, celah terbesar dalam keamanan bukan selalu sistem, tapi manusia,” paparnya.
Avan sendiri merupakan lulusan Universitas Teknologi Yogyakarta dan kini berkarier sebagai praktisi keamanan siber di Punggawa Cybersecurity. Meski statusnya sebagai ayah satu anak tapi tak menghalangi langkahnya untuk terus menembus panggung global.
Konferensi DEF CON dikenal sebagai salah satu forum paling prestisius di dunia keamanan siber. Digagas sejak 1993 oleh Jeff Moss, ajang ini menjadi titik temu para hacker, peneliti, praktisi IT, hingga perusahaan teknologi dari berbagai belahan dunia, mulai Asia, Amerika, Eropa hingga Afrika.
Berbeda dari konferensi korporat yang formal, DEF CON justru identik dengan suasana independen, santai, namun sangat teknis dan penuh tantangan. Ribuan peserta hadir setiap tahunnya untuk berbagi riset, teknik eksploitasi, hingga inovasi terbaru.
Edisi Asia Tenggara tahun ini menjadi momentum penting. DEF CON resmi melebarkan sayap ke kawasan regional melalui DEF CON Singapore, bekerja sama dengan Home Team Science and Technology Agency dan Centre for Strategic Infocomm Technologies.
Bagi Avan, keikutsertaannya bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan pintu untuk membawa nama Indonesia lebih jauh di kancah global.
“Saya ingin membawa lebih banyak kontribusi dari Indonesia ke panggung dunia, mengembangkan riset yang lebih berdampak, serta meningkatkan awareness terhadap ancaman keamanan siber, khususnya social engineering,” tegasnya.
Dari desa kecil di Bojong, langkah Avan membuktikan bahwa talenta daerah mampu bersaing di level dunia. Kini, sorotan tak hanya tertuju pada inovasinya, tetapi juga pada harapan besar: lahirnya lebih banyak “Avan-Avan” baru dari Kabupaten Tegal yang siap mengguncang dunia.