Motivasi menjadi relawan disebut tidak muncul secara instan. Mujiono mengaku tergerak setelah mengalami kejadian pribadi saat istrinya mengalami kecelakaan.
“Saya tidak tahu harus bagaimana menolong. Dari situ saya ingin jadi relawan,” tuturnya.
Sejak saat itu, keterlibatan di dunia relawan terus dijalani, dengan fokus utama pada kemanusiaan.
Meski dikenal sebagai “pemburu mayat”, aktivitas mereka tidak terbatas pada evakuasi jenazah.
Penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), membantu korban kecelakaan, hingga memberikan pakaian kepada yang membutuhkan juga dilakukan.
“Intinya kita memanusiakan manusia,” tegas Mujiono.
Kisah Mencekam di Lapangan: Dari Kaligawe hingga Genuk
Cerita-cerita menyeramkan kerap dialami para relawan. Marsudi (63), yang akrab disapa Mbah Uban, menceritakan pengalaman saat mengevakuasi korban kecelakaan kereta di kawasan Kaligawe.
Tubuh korban disebut telah hancur dan harus dikumpulkan secara terpisah.
“Kita ambilin satu-satu, dari mata, otak, kita pungut sedikit demi sedikit dimasukkan plastik,” kata Mbah Uban.
Pengalaman lain yang dianggap mencekam juga terjadi setelah proses evakuasi selesai.
“Sampai malam kita tiga kali didatangi, seperti ada yang mengetuk rumah. Tapi waktu keluar, tidak ada orang,” ujarnya.
Peristiwa lain terjadi di wilayah Genuk, di mana jenazah ditemukan dalam kondisi tinggal tulang belulang.
“Teman-teman banyak yang kerasukan. Tapi bukan korban, itu diduga korban pembunuhan,” tambahnya.
Strategi Menghadapi Bau Menyengat Jenazah
Bau menyengat menjadi tantangan utama dalam evakuasi jenazah. Namun, hal itu disebut dapat diatasi dengan penguatan mental dan kebiasaan.
Ronnie Kurniawan, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa pola pikir menjadi kunci utama.
“Kalau dari awal kita sudah mindset ‘tidak bau’, insyaallah tidak bau. Tapi kalau sudah kebayang, baunya akan terasa terus,” ujarnya.