SLAWI, diswayjateng.com– Pagi belum benar-benar tinggi ketika Agnes Ervina (49) menyalakan mesin motornya. Helm terpasang rapi, ponsel di genggaman, dan doa lirih mengiringi langkahnya keluar dari rumah sederhana di RT 02 RW 03 Desa Slawi Kulon, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal.
Di balik rutinitas itu, tersimpan kisah panjang tentang kehilangan, perjuangan, dan keteguhan seorang ibu tunggal yang tak pernah menyerah pada keadaan.
Di Hari Kartini, sosok Agnes menjadi potret nyata perempuan tangguh masa kini. Ia bukan tokoh besar dengan panggung megah, melainkan “Kartini jalanan” yang menaklukkan kerasnya hidup dari balik setang motor sebagai driver ojek online (Ojol).
Ditemui di Basecamp Driver Online Slawi Saduluran (Dosis), Kelurahan Pakembaran, Senin (20/4/2026), Agnes mengisahkan perjalanan hidupnya yang berubah drastis sejak sang suami meninggal dunia pada 2014.
Sejak saat itu, ia harus memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga.
“Sejak anak saya kelas 2 SD, saya menghidupi dia sendiri. Tidak mudah, tapi saya harus kuat,” ujarnya, dengan mata yang sesekali berkaca-kaca.
Perempuan lulusan Sekolah Tinggi Informatika (STIMIK) Jakarta itu sempat mencicipi berbagai pekerjaan. Mulai dari bekerja di gudang bumbu hasil bumi di Kota Tegal hingga di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta.
Namun, ia memilih kembali ke Slawi demi mendampingi tumbuh kembang anaknya.
“Anak saya makin besar, butuh perhatian. Saya ingin tetap dekat,” tuturnya.
Pilihan hidup itu membawanya menjadi driver ojek online sejak 2017. Dengan tekad kuat, Agnes menanggalkan gengsi. Gelar sarjana ahli madya (A.Md) tak membuatnya ragu turun ke jalan demi penghasilan halal.
“Saya tidak malu jadi ojol. Yang penting halal,” tegasnya.
Di masa awal, penghasilannya bisa mencapai Rp200 ribu per hari. Dari hasil itu, ia mampu memperbaiki taraf hidup, bahkan mengganti motor lamanya dengan yang lebih layak. Namun, seiring waktu, pendapatan semakin menurun.
“Sekarang dapat Rp50 ribu saja sudah syukur. Kadang harus cari tambahan, antar jemput anak sekolah atau kirim barang,” ucapnya.
Di tengah perjuangan mencari nafkah, Agnes juga merawat ibunya yang telah berusia 80 tahun. Di rumah, ia menjalani dua peran sekaligus: anak dan ibu.
Namun, di balik segala keterbatasan itu, ia berhasil mengantar anak semata wayangnya meraih masa depan gemilang.