Menanggapi hal tersebut, Pemkot menyatakan bahwa indikator makro membutuhkan waktu dan intervensi berkelanjutan. Namun, dampak mikro di tingkat lingkungan disebut telah terlihat.
“Partisipasi posyandu meningkat, kerja bakti lebih masif, dan pemilahan sampah mulai dilakukan dari sumber. Dampak besar memang tidak instan, tetapi fondasi sudah terbentuk,” ujar Agustina.
Percepatan penyusunan Perwal disebut bukan sebagai bentuk perubahan arah kebijakan, melainkan penyempurnaan aturan agar lebih adaptif terhadap kebutuhan warga.
Sejumlah masukan yang tengah dikaji antara lain terkait fleksibilitas penggunaan dana untuk pembelian material sederhana seperti pasir dan semen guna perbaikan drainase kecil di lingkungan RT.
“Kebutuhan di lapangan terus berkembang. Aspirasi warga akan diakomodasi, tetapi tetap disesuaikan agar tidak tumpang tindih dengan kewenangan dinas teknis,” jelasnya.(adv)