Wali Kota Semarang Tegaskan Perempuan Harus Berani Ciptakan Ruang dan Ambil Keputusan Adaptif
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat didapuk menjadi salah satu pembicara pada acara talkshow CNN bertema : “Daya Perempuan : Merawat Kehidupan, Memimpin Perubahan” Di Studio CNN Indonesia di Jakarta, Kamis (16/4).-dok. Pemkot Semarang-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, Diswayjateng.com — Peran perempuan dalam kepemimpinan kembali ditekankan oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang menyatakan bahwa kekuatan perempuan perlu diaktualisasikan melalui keberanian menciptakan ruang serta pengambilan keputusan yang adaptif di tengah berbagai tantangan sosial.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks dorongan peningkatan kepemimpinan perempuan di daerah, di mana peluang dinilai belum sepenuhnya terbuka secara merata. Perempuan disebut masih kerap dihadapkan pada hambatan budaya yang tidak selalu berpihak.
Menurut Agustina, kekuatan perempuan telah melekat sejak lahir dan tercermin dari peran biologis maupun sosial yang dijalankan sepanjang kehidupan. Hal itu dinilai menjadi dasar kuat bagi perempuan untuk tampil sebagai pemimpin.
“Perempuan itu memiliki kekuatan besar, termasuk dalam proses kehidupan seperti melahirkan. Itu menjadi bukti bahwa perempuan punya daya yang tidak dimiliki laki-laki,” ujar Agustina, Kamis 16 April 2026.
Diungkapkan bahwa perjalanan perempuan menuju posisi kepemimpinan masih diwarnai berbagai keterbatasan ruang. Kesempatan yang tersedia disebut sering kali bersifat situasional dan belum berkelanjutan.
Kondisi tersebut dinilai tidak boleh membuat perempuan pasif. Sebaliknya, ruang untuk berkembang harus diupayakan secara mandiri agar kontribusi dapat terus diberikan di berbagai sektor.
“Jangan menunggu diberi ruang. Kita harus mencari dan menciptakan ruang sendiri sesuai kebutuhan kita,” tegasnya.
Dalam aspek kepemimpinan, keberanian dalam mengambil keputusan disebut sebagai faktor krusial. Keputusan yang dihasilkan, menurutnya, harus memiliki orientasi jangka panjang dan mampu beradaptasi dengan dinamika yang ada.
Popularitas semata dinilai tidak cukup untuk menjawab tantangan kepemimpinan saat ini. Pendekatan yang adaptif justru dianggap lebih relevan dalam menciptakan perubahan berkelanjutan.
“Kalau hanya ingin populer, itu bisa saja dilakukan. Tapi kepemimpinan perempuan hari ini membutuhkan keputusan yang adaptif, bukan sekadar sensasi,” katanya.
Dalam konteks pembangunan daerah, sejumlah isu strategis di Kota Semarang turut disoroti, mulai dari persoalan kebersihan, disabilitas, hingga inklusivitas. Arus investasi yang terus meningkat juga disebut berpotensi menimbulkan kesenjangan apabila tidak diimbangi kebijakan yang tepat.
Masyarakat lokal, menurutnya, berisiko hanya menjadi penonton jika kebijakan tidak diarahkan untuk melibatkan mereka secara aktif dalam pembangunan.
Oleh karena itu, perempuan pemimpin didorong untuk berani mengambil langkah strategis yang mampu menjawab tantangan tersebut secara komprehensif.
Selain kebijakan, aspek keteladanan disebut memiliki peran penting dalam menciptakan perubahan di masyarakat. Perilaku sederhana yang dilakukan secara konsisten diyakini dapat membentuk budaya positif.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: