SEMARANG, Diswayjateng.com — Bencana angin puting beliung di Gedawang Semarang telah menyebabkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan pada 30 Maret 2026. Peristiwa yang disebut sebagai kejadian pertama di wilayah tersebut itu mengakibatkan sedikitnya 65 rumah terdampak, dengan 29 unit di antaranya mengalami kerusakan berat.
Dampak dari angin puting beliung di Gedawang Semarang dilaporkan terjadi di Kampung Gunung Tugel, Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik. Kerusakan paling banyak ditemukan pada bagian atap rumah warga yang tersapu angin kencang dalam satu putaran kejadian.
Penanganan terhadap dampak angin puting beliung di Gedawang Semarang kini tengah dilakukan secara bertahap. Upaya pemulihan disebut akan diperkuat melalui keterlibatan sejumlah perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau CSR.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyatakan bahwa bantuan dari berbagai pihak telah mulai diinisiasi untuk mempercepat pemulihan pascabencana angin puting beliung di Gedawang Semarang.
“Sudah ada yang menyampaikan siap membantu seperti PMI, kemudian Bank Jateng. Kami juga sudah berkomunikasi dengan pihak lain seperti Mandiri, jika masih diperlukan bantuan tambahan akan terus dikoordinasikan,” ujarnya, Rabu 8 April 2026.
Selain itu, penanganan darurat telah dilakukan segera setelah kejadian dilaporkan. Warga disebut telah bergerak cepat melakukan gotong royong, sementara bantuan logistik dan kebutuhan dasar telah didistribusikan ke lokasi terdampak.
“Saya berterima kasih kepada masyarakat yang bergerak cepat. Saat kami tiba, warga sudah bergotong royong, BPBD juga langsung melakukan pemetaan, bantuan darurat seperti sembako, terpal, hingga tempat tinggal sementara sudah tersedia,” kata Agustina.
Proses pendataan terhadap rumah yang mengalami kerusakan juga sedang dilakukan. Rumah-rumah yang perlu direnovasi akan dimasukkan dalam daftar perbaikan oleh dinas terkait setelah proses survei diselesaikan.
“Yang perlu direnovasi akan masuk dalam daftar Perkim. Kami harap tim survei dapat segera menyelesaikan pendataan agar keputusan bisa cepat diambil,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, menyampaikan bahwa kejadian tersebut terjadi pada 30 Maret 2026 dan langsung ditindaklanjuti setelah laporan warga diterima.
“Laporan masuk dari warga terkait kejadian angin puting beliung, dan saat dilakukan asesmen, ditemukan sekitar 65 rumah terdampak, dengan kerusakan rata-rata pada bagian atap hingga mencapai sekitar 80 persen,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa fenomena ini tergolong baru di wilayah Gedawang, yang sebelumnya tidak pernah tercatat mengalami bencana serupa.
“Ini menjadi catatan baru bagi kami, karena di wilayah Gedawang sebelumnya belum pernah terjadi angin puting beliung,” ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan, tren bencana di Kota Semarang pada awal 2026 mengalami pergeseran. Jika sebelumnya banjir lebih dominan, kini kejadian cuaca ekstrem berupa angin kencang dan puting beliung lebih sering terjadi di beberapa wilayah.
“Fenomena cuaca ekstrem saat ini didominasi hujan deras disertai angin kencang. Kejadian serupa juga terjadi di wilayah lain seperti Tanjungmas, Telogosari, dan Muktiharjo Kidul,” katanya.