Puji menjelaskan bahwa dalam praktiknya terkadang terdapat variasi biaya dalam penyusunan menu.
Sebagai contoh, ada hari di mana biaya menu bisa mencapai Rp11.000 karena tambahan bahan makanan seperti susu atau buah dengan ukuran lebih besar.
Namun pada hari lain menu bisa bernilai sekitar Rp9.000 sehingga terjadi mekanisme subsidi silang dalam siklus menu.
“Kalau ada hari yang overcost, misalnya Rp11.000 karena ada tambahan susu atau buah, biasanya di hari lain menunya Rp9.000. Jadi tetap seimbang dalam siklusnya,” jelasnya.
Keluhan di SMP 5 dan SMP 6 Batang
Menanggapi sorotan terhadap menu MBG di SMP Negeri 5 Batang dan SMP Negeri 6 Batang, Puji mengatakan pihaknya telah memberikan perhatian khusus kepada SPPG yang menangani sekolah tersebut.
Kedua sekolah itu diketahui menerima distribusi makanan dari SPPG Kasepuha.
“Kalau ada keluhan dari masyarakat atau media sosial, biasanya langsung saya kirim ke kepala SPPG dan mitranya untuk ditindaklanjuti,” katanya.
Menurutnya evaluasi terhadap SPPG tersebut tetap dilakukan seperti mekanisme pengawasan yang berlaku di seluruh wilayah.
Sekolah Tidak Bisa Pindah SPPG
Puji juga menjelaskan bahwa setiap sekolah sudah ditetapkan menerima makanan dari SPPG tertentu berdasarkan sistem pemerataan penerima manfaat.
Karena itu sekolah tidak dapat mengajukan perpindahan ke penyedia dapur lain meskipun terdapat keluhan.
“Sekolah sudah di-plotting. Misalnya satu dapur melayani sekitar dua ribu penerima manfaat. Jadi tidak bisa pindah karena harus merata,” ujarnya.
Solusi yang dilakukan, menurutnya, adalah memperkuat pengawasan dan memberikan teguran kepada pihak penyedia jika ditemukan kekurangan.
Foto Menu di Media Sosial
Terkait banyaknya foto menu MBG yang beredar di media sosial, Puji menyebut hal tersebut merupakan hak masyarakat.
Namun ia berharap dokumentasi yang diunggah dapat menggambarkan kondisi menu secara utuh.
Menurutnya beberapa foto yang beredar terkadang menunjukkan makanan yang sudah sebagian dimakan sehingga menimbulkan persepsi berbeda dari menu asli.
“Kadang ada foto yang diunggah itu sudah dimakan sebagian. Buahnya sudah habis atau ada menu yang tidak ikut difoto, sehingga terlihat seperti tidak lengkap,” katanya.