Imbas Perang, Ekspor Sarung Tegal ke Afrika Tersendat

Senin 02-03-2026,16:00 WIB
Reporter : Yeri Noveli
Editor : Laela Nurchayati

SLAWI, diswayjateng.com – Konflik di Timur Tengah mulai terasa hingga ke sentra-sentra industri di Kabupaten Tegal. Ketegangan antara Iran dan Israel, serta memanasnya situasi di Laut Merah, berdampak langsung pada jalur ekspor sarung asal Tegal ke Afrika dan kawasan Timur Tengah.

Sejumlah pengusaha sarung mengeluhkan tertahannya pengiriman barang sejak dua hari terakhir. Salah satunya Jamal Alkatiri, owner PT Asaputex Jaya Sarung Pohon Korma, yang ditemui di pabriknya di Desa Pacul, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Senin (2/3/2026).

Jamal mengungkapkan, di Tegal terdapat sekitar 30 perusahaan sarung. Mayoritas produksinya diekspor ke negara-negara Afrika, di mana sarung menjadi busana harian masyarakat setempat.

“Mulai kemarin tidak ada pengiriman dari Indonesia ke Afrika. Bahkan ada kabar semua kiriman dibatalkan. Harusnya bulan ini saya kirim dua kontainer, Selasa (3/3) dan Sabtu (7/3), tapi dibatalkan pihak pelayaran,” ujarnya.

Satu kontainer berisi sekitar 25 ribu sarung. Artinya, ada 50 ribu sarung yang gagal diberangkatkan. Padahal, menurut Jamal, permintaan pasar luar negeri masih tinggi dan perusahaannya baru mampu memenuhi sekitar 30 persen dari total permintaan.

“Dampaknya sangat besar bagi kami. Selain pengiriman dihentikan, kontainer juga tidak tersedia dan ongkos transportasi naik sekitar 15 persen bulan ini,” bebernya.

Ia menambahkan, situasi global yang dipicu memanasnya konflik, termasuk keterlibatan Amerika Serikat dalam ketegangan kawasan, membuat jalur logistik terganggu. 

“Kondisi ini jelas merugikan kami karena barang belum terkirim dan pembayaran pun belum lunas,” ucapnya.

Meski demikian, secercah harapan datang dari pasar domestik. Menjelang Idulfitri 2026, penjualan sarung di dalam negeri justru melonjak tajam. Sejak awal Februari, permintaan meningkat signifikan, terutama melalui penjualan daring di marketplace.

“Biasanya kami jual 20 sampai 50 sarung per hari. Sekarang bisa tembus 500 sarung per hari. Naiknya hampir 300 persen. Ini sangat membantu,” ungkap Jamal.

Sarung Tegal yang dikenal dengan sebutan sarung toldem, diproduksi menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Pada momen Lebaran, produk tradisional ini memang selalu mengalami kenaikan permintaan hingga tiga kali lipat.

Jamal mengaku bersyukur satu kontainer sempat terkirim pada akhir Februari lalu. Namun untuk pengiriman awal Maret ini, pihaknya hanya bisa menunggu kepastian situasi global membaik.

“Imbas perang ini bukan hanya menimpa kami, tapi seluruh dunia. Kami hanya bisa berdoa dan bersabar. Untungnya pasar lokal masih kuat,” tutupnya. 

Kategori :