Di Batang, ada sekolah dengan jumlah siswa sangat sedikit sehingga rasio nasional tidak bisa diterapkan.
“Tidak mungkin siswa di daerah dipindah ke kota hanya karena rasio,” katanya memberi perumpamaan.
Krisis guru Batang memaksa sekolah menerapkan kelas rangkap di tingkat SD agar pembelajaran tetap berlangsung.
Guru SMP di Batang juga mulai mengajar berbasis rumpun ilmu agar satu guru bisa mengampu beberapa mata pelajaran.
Untuk mengatasi hal itu merancang program Sarjana Mengajar untuk melibatkan lulusan baru membantu sekolah.
Program Sarjana Mengajar Batang diharapkan memberi pengalaman bagi fresh graduate sekaligus menutup kekurangan guru sementara.
Arief menegaskan program ini tidak terkait status kepegawaian, melainkan bentuk pengabdian dan pembelajaran.
Namun, persoalan baru muncul soal honorarium karena aturan melarang pemberian honor bagi tenaga non-ASN baru.
Pemkab Batang kini mencari skema legal agar peserta Sarjana Mengajar tetap mendapat penghargaan layak.
“Kita masih cari cara agar mereka bisa dapat upah yang sah,” katanya.
Krisis guru Batang dikhawatirkan berdampak pada kualitas pendidikan jika tidak segera ditangani serius.
Disdikbud Batang berharap pemerintah pusat membuka formasi CPNS guru baru agar kebutuhan tenaga pengajar terpenuhi.
Arief menekankan bahwa pendidikan tidak bisa dihitung hanya dengan angka rasio, melainkan kehadiran guru di kelas.
Krisis guru Batang kini menjadi alarm keras bahwa investasi pendidikan harus diprioritaskan agar sekolah tidak kehilangan arah.