BREBES, diswayjateng.com – Nuansa berbeda tampak dalam kegiatan literasi rutin yang digelar di lingkungan SMA Negeri 1 Paguyangan Brebes, Rabu (25/2). Jika biasanya literasi identik dengan bedah buku teks atau materi ajar, kali ini seluruh tenaga pendidik diajak menyelami lorong waktu. Mereka melakukan refleksi mendalam mengenai sejarah dan marwah profesi guru di Indonesia.
Kegiatan yang diikuti oleh seluruh jajaran guru ini bukan sekadar rutinitas mingguan. Agenda tersebut dirancang sebagai ruang kontemplasi untuk menyadari bahwa status "profesi bermartabat" yang dinikmati guru saat ini merupakan buah dari perjuangan kolektif yang berdarah-darah di masa lalu.
Dalam sesi refleksi tersebut, ditekankan bahwa profesionalisme guru tidak turun dari langit secara instan. Ada peran besar organisasi profesi, salah satunya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), yang konsisten melakukan advokasi selama puluhan tahun.
Perjuangan tersebut bermuara pada pengakuan guru sebagai tenaga profesional yang sejajar dengan profesi hukum maupun medis.
Tonggak sejarah paling krusial yang dibahas adalah lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Regulasi ini menjadi "piagam kebebasan" sekaligus pengakuan negara bahwa guru bukan sekadar pekerjaan pengabdian tanpa standar, melainkan profesi yang menuntut kompetensi tinggi, perlindungan hukum, dan kesejahteraan yang layak.
Kepala SMA Negeri 1 Paguyangan Brebes, Yuniarso Amirudin, SPd, MSi, menegaskan bahwa literasi sejarah profesi ini sangat penting agar guru tidak terjebak dalam rutinitas administratif semata. Menurutnya, jati diri guru terletak pada tiga pilar utama: mengajar, mendidik, dan memberi teladan.
"Sertifikasi guru yang diterima saat ini jangan hanya dipandang sebagai tambahan tunjangan bulanan. Itu adalah manifestasi pengakuan negara atas kompetensi kita. Konsekuensinya, kualitas pengajaran harus terus ditingkatkan, bukan malah stagnan," ujar Yuniarso.
Ia juga menyinggung makna simbolis tanggal 25. Meski pada kegiatan kali ini para guru tidak mengenakan seragam batik Kusuma Bangsa (seragam khas PGRI), esensi perjuangan para pendahulu harus tetap terpatri dalam sanubari.
Momentum ini menjadi pengingat moral agar integritas tetap dijaga di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan sesi diskusi interaktif. Para guru tampak antusias memberikan pandangan mengenai cara menjaga marwah profesi di era digital.
Refleksi ini menyadarkan peserta bahwa menjadi guru adalah sebuah amanah besar untuk membangun peradaban bangsa.
"Literasi hari ini membuka mata kami bahwa ada beban sejarah yang kami pikul. Kami harus memastikan bahwa kualitas pendidikan di kelas benar-benar mencerminkan gelar profesional yang kami sandang," ungkap salah satu peserta guru di sela-sela acara.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan semangat pengabdian guru tidak hanya berhenti pada pemenuhan jam mengajar, tetapi bertransformasi menjadi gerakan moral untuk melahirkan generasi emas Indonesia yang cerdas secara intelektual dan berkarakter.