Sahur Lintas Komunitas, Sinta Nuriyah Ajak Warga Rawat Keberagaman di Kota Semarang

Rabu 25-02-2026,08:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Laela Nurchayati

Semarang, Diswayjateng.com – Upaya menjaga harmoni sosial dan memperluas ruang inklusivitas kembali ditegaskan melalui kegiatan sahur lintas komunitas yang digelar di Pura Agung Girinatha. Momentum Ramadan yang berlangsung di rumah ibadah umat Hindu tersebut menjadi simbol kuat praktik toleransi yang tumbuh dan dirawat di ibu kota Jawa Tengah.

Kegiatan sahur bersama itu dihadiri tokoh nasional Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, jajaran Forkopimda, tokoh lintas agama, serta perwakilan komunitas disabilitas. Kebersamaan yang terbangun dalam suasana hangat mencerminkan komitmen lintas elemen masyarakat untuk merawat persaudaraan dalam keberagaman.

Sinta Nuriyah menegaskan bahwa tradisi sahur lintas komunitas yang selama ini ia jalankan merupakan ikhtiar memperkuat nilai kemanusiaan di tengah kemajemukan bangsa. Ia menyebut, Indonesia dibangun di atas realitas masyarakat yang beragam suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial.

“Indonesia itu adalah rakyat yang majemuk. Puasa itu mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang luhur,” ujarnya, Selasa 24 Februari 2026 dini hari.

Menurutnya, perbedaan bukanlah alasan untuk saling berhadapan. Ia kembali mengingatkan pesan yang kerap ia gaungkan dalam berbagai kesempatan sahur kebangsaan.

“Lita’arafu, untuk saling mengenal, saling menghormati, saling menghargai, bukan untuk saling bertengkar,” kata Sinta.

Ia menambahkan, nilai kejujuran, keadilan, kesabaran, keikhlasan, serta sikap saling menghormati harus menjadi fondasi kehidupan bersama. Tanpa nilai-nilai tersebut, kemajemukan justru berpotensi memunculkan gesekan sosial.

Sementara itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menekankan bahwa harmoni sosial merupakan pilar utama dalam pembangunan kota. Ia menyebut capaian Semarang yang masuk tiga besar nasional dalam Indeks Kota Toleran sebagai indikator bahwa ruang aman bagi seluruh warga terus dijaga dan diperkuat.

“Harmoni ini tidak hadir dengan sendirinya, harmoni ini dibangun dari kesediaan untuk saling memahami, keberanian untuk saling menerima, dan komitmen bersama untuk menempatkan kemanusiaan di atas segala perbedaan,” ujar Agustina.

Menurutnya, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah kota, kata dia, memastikan setiap warga dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman tanpa rasa curiga.

“Bagi kami, toleransi adalah bagaimana setiap warga merasa aman menjalankan ibadahnya, bagaimana perbedaan hadir tanpa rasa curiga, dan bagaimana kita saling menyapa sebagai sesama manusia dengan hormat dan hangat,” lanjutnya.

Selain memperkuat komitmen lintas iman, Pemkot Semarang juga mendorong perluasan makna inklusivitas melalui program Rumah Inspirasi Disabilitas. Dari total 16 kecamatan, tujuh rumah inspirasi telah beroperasi sebagai ruang interaksi, kreativitas, dan pemberdayaan bagi penyandang disabilitas.

Pemerintah menargetkan seluruh kecamatan memiliki fasilitas serupa agar akses terhadap ruang sosial dan pelayanan publik semakin setara.

“Setiap kecamatan akan mendapatkan akses dan ruang untuk bermain, bertemu, dan diperlakukan setara dengan seluruh warga Kota Semarang,” tegas Agustina.

Kategori :