Virus Nipah Mengintai Asia, Semarang Siaga Dini Meski Nol Kasus di Indonesia

Selasa 03-02-2026,13:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Laela Nurchayati

SEMARANG, Diswayjateng.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya Virus Nipah, menyusul munculnya kasus  terkonfirmasi di India yang belakangan menjadi perhatian publik internasional. 

Meski hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia, langkah antisipasi dini terus diperkuat mengingat virus tersebut memiliki tingkat kematian yang tinggi. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, memastikan bahwa berdasarkan informasi resmi dari Kementerian Kesehatan, belum ada laporan kasus Virus Nipah di Tanah Air, termasuk di Kota Semarang. 

“Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, sampai saat ini belum ada kasus Virus Nipah di Indonesia. Di Kota Semarang juga belum ditemukan,” ujar Abdul Hakam saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kota Semarang, Selasa 3 Februari 2016. 

Hakam menjelaskan, pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan telah menggelar rapat koordinasi secara daring dengan seluruh pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan dini. Rapat tersebut membahas langkah pencegahan, deteksi awal, serta kesiapan fasilitas kesehatan apabila terjadi kasus yang dicurigai. 

Virus Nipah diketahui berasal dari famili Paramyxoviridae dengan reservoir alami berupa kelelawar buah (Pteropus spp.). Pada hewan tersebut, virus dapat hidup tanpa menimbulkan gejala. 

Namun, penularan bisa terjadi ketika virus berpindah ke hewan perantara seperti babi atau ternak lain, sebelum akhirnya menginfeksi manusia. 

Sejak pertama kali diidentifikasi pada 1998 di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk India dan Malaysia, kasus Virus Nipah dilaporkan terus muncul secara sporadis. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena angka kematian pada manusia yang terinfeksi tergolong tinggi. 

“Tingkat fatalitas Virus Nipah pada manusia cukup tinggi, berkisar antara 50 hingga 75 persen. Karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan meskipun belum ada kasus,” kata Hakam. 

Ia memaparkan, gejala infeksi Virus Nipah sangat beragam. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami keluhan ringan seperti demam, nyeri otot, flu, mual, hingga muntah. Namun, pada sebagian kasus, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan saraf yang serius. 

Pada fase berat, Virus Nipah dapat menyebabkan peradangan otak atau ensefalitis. Gejala klinisnya meliputi kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan kesadaran, hingga koma. Kondisi ini berpotensi berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan cepat. 

“Jika sudah masuk gejala berat, risikonya sangat tinggi dan bisa mengancam nyawa. Inilah yang perlu benar-benar diwaspadai,” ujarnya. 

Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus untuk Virus Nipah. Penanganan medis masih bersifat suportif, yakni fokus pada perawatan gejala seperti pemberian obat penurun demam, antikejang, serta terapi pendukung lainnya sesuai kondisi pasien. 

Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah paling utama. Dinas Kesehatan Kota Semarang mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), rutin mencuci tangan dengan sabun, serta menjaga kebersihan lingkungan. 

Masyarakat juga diminta menghindari konsumsi buah yang tidak utuh atau berpotensi terkontaminasi, serta membatasi kontak langsung dengan hewan ternak di wilayah yang berisiko. Penggunaan masker, terutama saat bepergian atau berada di kerumunan, turut dianjurkan karena virus dapat masuk melalui saluran pernapasan. 

Kategori :