Dinkes Pemalang memastikan ketersediaan logistik kesehatan dan obat-obatan dalam kondisi aman dan mencukupi.
Pasokan obat tidak hanya berasal dari kabupaten, tetapi juga mendapat dukungan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Berbagai vitamin dan obat-obatan dasar disalurkan untuk warga terdampak maupun relawan.
“Kita juga jaga relawan agar tetap sehat, karena mereka sangat penting dalam proses penanganan bencana,” ujarnya.
Wiji menegaskan bahwa pelayanan kesehatan difokuskan pada kelompok rentan.
Anak-anak, ibu, dan lansia menjadi prioritas utama dalam pemantauan kesehatan.
“Yang sehat harus tetap sehat, yang sakit kita obati,” tegasnya.
Keluhan ringan seperti pusing, batuk, dan pilek langsung ditangani agar tidak berkembang menjadi penyakit serius.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, penyakit yang paling banyak muncul adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
Keluhan lain yang sering ditemukan adalah mialgia atau pusing, yang dipicu oleh kelelahan dan tekanan psikis pascabencana.
“Pusing itu bukan hanya fisik, tapi juga karena pikiran dan trauma,” ungkap Wiji.
Selain pengobatan fisik, Dinkes Pemalang juga memberikan perhatian serius pada kesehatan mental warga.
Trauma healing dilakukan bersama rumah sakit dan relawan untuk memulihkan kondisi psikis korban bencana.
Upaya ini ditujukan agar warga tidak larut dalam keterpurukan dan mampu bangkit kembali.
“Psikis harus kita bangun supaya mereka kuat dan yakin bisa bangkit,” jelasnya.
Wiji menegaskan bahwa penanganan kesehatan ini merupakan kerja bersama lintas sektor.