Sugono menambahkan, pascabencana ini seharusnya menjadi momentum untuk membenahi tata kelola wisata Guci secara menyeluruh, baik dari sisi infrastruktur, keselamatan, hingga kebijakan retribusi yang berpihak pada masyarakat dan wisatawan.
Diberitakan sebelumnya, banjir bandang kembali menghantam Kawasan Wisata Guci pada Sabtu dini hari (24/1/2026). Bencana tersebut disebut lebih dahsyat dibandingkan kejadian serupa sebulan sebelumnya. Selain merusak permukiman warga, banjir bandang juga melumpuhkan infrastruktur vital dan aktivitas wisata.
Arus deras air bercampur material kayu gelondongan dan longsoran tanah merobohkan tiga jembatan utama, menghanyutkan lapak pedagang, pagar pembatas, hingga satu unit alat berat jenis ekskavator. Sejumlah objek wisata pun terpaksa ditutup, dan roda ekonomi warga Guci nyaris berhenti total.