Barongsai Dipakai Mengamen, Perajin Semarang Khawatir Citra Budaya Tercoreng

Senin 26-01-2026,20:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Wawan Setiawan

SEMARANG, diswayjateng.id — Perajin barongsai asal Kota Semarang, Candra Wiro Utomo atau yang dikenal dengan Oei Wie Hong, menyampaikan keprihatinannya atas maraknya penggunaan barongsai sebagai alat mengamen di jalanan. Menurutnya, praktik tersebut berpotensi merusak nilai budaya dan citra kesenian barongsai. 

Candra mengungkapkan, meski memahami alasan ekonomi para pelakunya, ia menilai penggunaan barongsai di jalanan tetap menimbulkan dilema bagi para pelaku seni dan perajin kebudayaan khususnya Barongsai.

“Kami sebagai perajin kebudayaan ini sebenarnya tersinggung. Kesenian barongsai itu nilai budayanya tinggi, beda dengan sekadar dipakai untuk mengamen di jalan,” ujar Candra saat ditemui Diswayjateng.id di rumah produksinya di Jalan Hiri 3 Nomor 6, Karangtempel, Semarang Timur.

Ia mengatakan, pihaknya tidak bisa sepenuhnya melarang karena para pengamen juga mencari nafkah. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga agar barongsai tidak disalahgunakan dan tidak mencoreng nama kesenian tersebut.

Kekhawatiran itu semakin besar setelah muncul kasus kriminal yang melibatkan pengamen berkostum barongsai. Candra menilai peristiwa tersebut bisa berdampak buruk pada citra barongsai di mata masyarakat.

“Yang kami tekankan itu jangan sampai ada tindakan kriminal. Kalau sampai terjadi, yang rusak bukan cuma pelakunya, tapi nama barongsai sebagai kesenian,” katanya.

Menurut Candra, persoalan serupa juga terjadi pada kesenian lain seperti reog atau jatilan yang kerap tampil di lampu merah. 

Kondisi ini, lanjutnya, juga berpotensi menyinggung para pelaku seni tradisi karena nilai keseniannya tereduksi.

Di sisi lain, Candra menjelaskan bahwa barongsai memiliki makna filosofis dan sejarah panjang. Dalam mitologi Tionghoa, barongsai bukan sekadar hewan, melainkan simbol untuk mengusir energi negatif dan melindungi masyarakat dari marabahaya.

“Awalnya barongsai itu dibuat untuk mengusir binatang buas yang merusak pertanian. Dulu ukurannya besar dan berat karena maknanya untuk bertarung,” jelasnya.

Seiring perkembangan zaman, ukuran barongsai kemudian disesuaikan untuk keperluan pertunjukan dan pertandingan. Saat ini, ukuran dan berat barongsai telah diatur dalam standar perlombaan agar tetap aman dan fungsional.

Candra yang telah menekuni dunia barongsai selama sekitar delapan tahun menilai perkembangan barongsai sebagai cabang olahraga dan seni pertunjukan cukup positif. Masuknya barongsai ke dalam sistem pembinaan olahraga juga dinilai membuka ruang prestasi bagi para atlet.

“Sekarang anak-anak yang berlatih keras itu punya tujuan. Ada hasil yang bisa dicapai, bukan sekadar latihan tanpa ujung,” ujarnya.

Ia menegaskan, regenerasi atlet barongsai menjadi hal penting agar kesenian tersebut tetap lestari dan berkembang. Menurutnya, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pembinaan dan edukasi, baik kepada pelaku seni maupun masyarakat. (Sul)

Kategori :