Dari Semarang ke Papua, Perajin Barongsai Kewalahan Hadapi Lonjakan Pesanan Imlek

Senin 26-01-2026,18:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Wawan Setiawan

Untuk satu set barongsai, harga yang dipatok masih sama dengan tahun sebelumnya, yakni di kisaran Rp6,5 juta. Dalam satu paket tersebut, pembeli akan mendapatkan satu kepala barongsai, badan, dua celana, dan dua pasang sepatu. 

“Tidak ada kenaikan harga, tahun lalu juga stagnan, enggak naik, enggak turun. Yang bikin berat itu orderannya mepet," keluhnya. 

Proses pembuatan barongsai bukan pekerjaan singkat, setiap unit melalui tahapan panjang dan detail, dimulai dari pembuatan rangka berbahan rotan. Setelah rangka selesai, tahap berikutnya adalah penempelan, pengecatan, hingga pemasangan bulu. 

“Kalau satu barang, pengerjaan bisa lima sampai tujuh hari. Tapi karena momennya barengan, kami kerjakan massal. Rangka semua dulu, tempelan semua, baru dilukis bareng-bareng, terakhir tempel bulu," terangnya. 

Beberapa bahan baku bahkan harus didatangkan dari luar negeri. Bulu domba dan bulu kelinci yang digunakan sebagai ornamen utama kepala barongsai masih harus diimpor karena belum tersedia di Indonesia. 

Usaha barongsai yang ditekuni Candra bukanlah bisnis baru. Ia merupakan generasi keempat dalam keluarga pengrajin barongsai. Menjaga usaha agar tetap bertahan lintas generasi, menurutnya, bukan semata soal kualitas produk. 

“Rahasianya itu kepercayaan. Kalau kita enggak dipercaya orang, enggak mungkin ada banyak orderan masuk," tegasnya. 

Kepercayaan itu pula yang membuat pelanggannya terus kembali, bahkan merekomendasikan ke komunitas barongsai lain di berbagai daerah. 

Di tengah gempuran produk barongsai impor, Candra memilih bertahan dengan keunggulan yang sulit ditiru, pesanan sesuai permintaan pelanggan. 

“Produk impor itu kan sudah jadi. Sementara di sini, pembeli bisa request warna, motif, sampai karakter tertentu. Itu yang bikin mereka lebih suka pesan ke kami," katanya.

Menjelang Imlek, jumlah pesanan barongsai dan naga mencapai puluhan unit. Meski belum menembus ratusan untuk satu event, secara keseluruhan dalam setahun produksi bisa mencapai ratusan unit, seiring makin seringnya pertunjukan barongsai digelar. 

“Sekarang tiap bulan relatif ramai, barongsai sudah masuk cabang olahraga resmi PON, jadi ada event pertandingan rutin, ujarnya. 

Karena lonjakan pesanan yang datang terlalu dekat dengan perayaan Imlek, rumah produksi ini akhirnya menutup pesanan untuk sebelum Imlek.

“Sekarang sudah close order. Kalau mau, kami terima PO untuk after Imlek," 

Di balik warna-warna mencolok dan gerak atraktif barongsai di panggung perayaan, ada tangan-tangan pengrajin yang bekerja dalam senyap. Bagi Candra, menjaga tradisi barongsai bukan sekadar bisnis, tetapi juga upaya merawat warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. 

Kategori :