"Ya senang sekali, karena ini kan minuman tradisioal, kalau anak-anak muda itu mulai menikmati dan mulai kenal akhirnya akan terjaga terus tradisi ini," paparnya.
Nurul menjelaskan, minuman gempol merupakan minuman tradisional Semarang, bahkan tertulis di buku Semarangan.
BACA JUGA:Lebih dari 1 Juta Penumpang Gunakan Face Recognition di KAI Daop 4 Semarang Tanpa Tiket dan KTP
BACA JUGA:Disdag Kota Semarang Evaluasi Lelang Parkir Pasar Tradisional, Cegah Konflik Pengelola
"Sebenarnya gempol sendiri beberapa kota juga ada, tapi memiliki rasa yang khas masing-masing. Kalau Semarang cenderung gurih, pakai gula halus untuk pemanis, isinya hanya gempol dan pleret," jelasnya.
Satu mangkok es gempol ini, dijual dengan harga Rp9 ribu. "Kita jual per mangkok Rp 9 ribu saja," katanya.
Di hari biasa, Nurul bisa menjual es gempol hampir 50 porsi. Rata-rata pembeli adalah keluarga yang sedang jalan-jalan bahkan dari luar kota.
"Kalau hari biasa bisa mencapai 50 porsi, waktu liburan bisa lebih dari itu. Kebanyakan yang datang adalah keluarga sedang jalan-jalan dan bahkan dari luar kota," terangnya.
BACA JUGA:Hari Pertama Pendaftaran SPMB Kota Semarang 2025, Ratusan Orang Tua Alami Kendala Data dan NIK
Nurul buka kedai Kenco ini setiap hari dari pukul 10.00 wib hingga 15.00 wib. Dan meraih omset penjualan Rp500 ribu per hari.