Disebut Mirip Lawang Sewu Semarang, Begini Sejarah Gedung Birao atau SCS Tegal

Sabtu 25-05-2024,11:15 WIB
Reporter : Endang Wulandari
Editor : Rochman Gunawan

DISWAY JATENG - Kota Tegal memiliki sejumlah bangunan bersejarah yang menjadi ikon, salah satunya sejarah Gedung Birao atau juga dikenal sebagai gedung Semarang-Cheribon Stoomtram Matschappij (SCS) atau Gedung Lawang Satus, yang berada di Jalan Pancasila atau depan Stasiun Kota Tegal.

Sejarah Gedung Birao atau SCS Tegal ini merupakan bangunan kolonial Belanda yang memancarkan aura misterius yang mengundang rasa ingin tahu, dan seakan memanggil untuk dijelajahi.

Sejarah Gedung Birao atau SCS ini mungkin tidak banyak yang mengenal, karena sebagian masyarakat lebih mengenalnya sebagai kembaran Lawang Sewu yang ada di Semarang, sebab bangunannya yang mirip dengan gedung Lawang Sewu Semarang.

Disebut kembaran karena arsitek gedung birao atau SCS ini sama dengan Lawang Sewu yang ada di Semarang. Lalu, apa saja sejarah Gedung Birao atau SCS Tegal ini? 

BACA JUGA:Mengintip Keunikan Gedung Bersejarah SCS Tegal, Kembarannya Lawang Sewu, Begini Ceritanya

Sejarah Gedung Birao atau SCS 

Gedung Birao atau SCS, jika dilihat secara seksama, bangunan yang dibuat pada masa Hindia Belanda itu nampak megah dan memiliki banyak pintu, hampir mirip dengan Gedung Lawang Sewu di Semarang. Hingga Gedung SCS, disebut oleh Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono dengan sebutan Gedung Lawang Satus.

Dikutip Portalbrebes dari kebudayaan. Kemdikbud.go.id menyebutkan bahwa, pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Kota Tegal menjadi daerah yang cukup strategis yang ada di pesisir utara Jawa sekitar abad ke-18 hingga ke-20 M.

Ini dibuktikan dengan adanya keberadaan bekas kantor perusahaan kereta api swasta Semarang-Cheribon Stoomtram Matschappij (SCS) anakan perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), yaitu Gedung Birao. Kantor perusahaan ini dulunya dimanfaatkan sebagai tempat administratif terkait perusahaan kereta api mengingat sedang dibangun jaluan kereta api Cirebon-Semarang.

Kondisi ini juga didukung dengan adanya jalur kereta api yang melewati wilayah Tegal dengan menghubungkan kota-kota di sepanjang pesisir utara Jawa.

Sejarah Gedung Birao atau SCS ini dirancang pertama kali pada 1911 oleh arsitek terkemuka dalam perkembangan arsitektur Belanda, Henri Maclaine Pont, arsitek keturunan Belanda-Bugis yang lahir di Jakarta.

BACA JUGA:Deretan 5 Tempat Bangunan Bersejarah di Kota Tegal yang Masih Eksis hingga Sekarang

Sang arsitek sengaja membuat bentuk bangunan Gedung Birao mirip dengan kantor pusat NIS yang ada di Semarang, Lawang Sewu. Persamaan ini mungkin ditujukan agar nampak kesan kesamaan dan keseragaman antar kantor-kantor milik NIS di berbagai kota. Kesamaan ini ditonjolkan oleh arsitek pada bagian pelengkung-pelengkung, pada gang sekeliling ruang kantor dan tangga utama, serta kesamaan pada bangunan yang dibuat meninggi agar terkesan megah.

Pembangunan Gedung Birao atau SCS turut memperhatikan kondisi lingkungan setempat, sama halnya Lawang Sewu dibuat. Bangunan dirancang sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan iklim, sinar matahari, dan gaya hidup masyarakat lokal pada masa itu. Tidak seperti orang Eropa yang lebih memilih menggunakan bahan impor, Maclaine Pont menggunakan bahan-bahan lokal misalnya kayu jati, batu bata, dan pasir lokal. 

Bangunan ini juga dibuat monoton tanpa fokus sentral, dengan wajah depan bangunan yang terdiri dari dua lantai dilengkapi pelengkung-pelengkung ala Greco-Romawi, diselingi empat menara dilengkapi tangga didalamnya. Pertimbangan ini dibuat agar pengunjung datang melewatinya melalui arah samping barat atau timur.

Kategori :