Regenerasi Pembatik Pekalongan, Rumah Batik TBIG Perlu Direplikasi Massal

Regenerasi Pembatik Pekalongan, Rumah Batik TBIG Perlu Direplikasi Massal

Mursidah, S.Sn., M.Sn., Kaprodi D3 Seni Kriya Batik ITSNU Pekalongan-ist-

PEKALONGAN, diswayjateng.id - Regenerasi pembatik PEKALONGAN menghadapi tantangan serius ketika anak muda masih menganggap pekerjaan tersebut kurang menarik. Di tengah persoalan itu, Rumah Batik TBIG dinilai menjadi salah satu model pemberdayaan yang menjanjikan.

Namun, program percontohan tersebut membutuhkan replikasi massal agar dampaknya menjangkau lebih banyak calon pembatik. Pandangan itu disampaikan Mursidah, S.Sn., M.Sn., Kaprodi D3 Seni Kriya Batik ITSNU Pekalongan.

Menurut Mursidah, persoalan regenerasi tidak cukup dijawab dengan pelatihan keterampilan membatik semata. Diperlukan ekosistem yang mampu menghubungkan kreativitas, akses permodalan, pendampingan usaha, dan perkembangan teknologi.

“Secara umum memang terjadi penurunan minat menjadi pengrajin batik pranggok,” kata Mursidah saat diwawancara, Selasa 27 Oktober 2026.

BACA JUGA: Batik Tulis, Inklusi, dan Masa Depan Anak Muda: Perjalanan 12 Tahun Rumah Batik TBIG Pekalongan

BACA JUGA: TBIG Laboratory Diresmikan, Pusat Pelatihan Teknisi Telekomunikasi Berstandar Nasional

Meski demikian, peluang keterlibatan generasi muda sebenarnya masih terbuka melalui bidang seni dan kreativitas. Ia melihat minat anak muda cukup baik ketika batik dikembangkan melalui pendekatan teknologi.

Peluang itu mencakup desain motif digital, desain fesyen, hingga pemasaran melalui platform digital. Artinya, regenerasi tidak harus selalu diarahkan menjadi pembatik konvensional di ruang produksi.

Anak muda juga bisa terlibat dalam rantai industri batik melalui keterampilan yang sesuai perkembangan zaman.

Stigma Profesi 

Salah satu persoalan mendasar terletak pada persepsi anak muda terhadap profesi pembatik. Mursidah menilai pekerjaan tersebut masih menghadapi stigma sebagai pekerjaan yang kurang keren.

BACA JUGA: Di Balik Kauman Batik Art Festival 2026 Kota Pekalongan, Antara Inovasi dan Keberlanjutan

BACA JUGA: Saat Burung Enggang Seolah Minta Tolong, Oca Suarakan Luka Kalimantan Lewat Batik Pekalongan

Batik sebagai pekerjaan orang tua” dan kuno menjadi persepsi yang mengurangi daya tarik profesi tersebut. Menurutnya, kondisi itu turut dipengaruhi minimnya apresiasi terhadap pekerjaan pembatik.

Padahal, keberlangsungan industri batik membutuhkan tenaga terampil yang mampu menjaga kualitas produksi. Tantangan tersebut menjadi penting bagi Pekalongan yang memiliki tradisi batik kuat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait