Bendung Cipero Tegal Jebol, Ketua DPRD Terjun ke Lokasi Berikan Solusi
Ketua DPRD Kabupaten Tegal, H. Wasbun Jauhara Khalim bersama Kepala DPUPR dan Kepala UPTD PSDA Wilayah 1 serta tim teknis saat mengecek Bendung Cipero yang jebol, baru-baru ini.--
WARUREJA, diswayjateng – Petaka bagi petani kembali terjadi. Bendung Cipero yang menjadi urat nadi pengairan di Desa Kedungjati, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal jebol diterjang banjir.
Dampaknya tak main-main, lebih dari 200 hektare sawah kini kehilangan suplai air dan terancam gagal tanam.
Kondisi ini langsung memantik perhatian Ketua DPRD Kabupaten Tegal, H. Wasbun Jauhara Khalim.
Rabu 1 April 2926, ia turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi sebenarnya setelah menerima laporan dari warga yang resah akibat terhentinya aliran irigasi.
Dalam kunjungannya, Wasbun didampingi Kepala Dinas PUPR Kabupaten Tegal serta Kepala UPTD PSDA Wilayah 1 bersama tim teknis. Mereka menyusuri titik jebolnya bendung yang kini hanya menyisakan aliran air tak terkendali dan saluran irigasi yang mengering.
BACA JUGA:Sepekan Sidaharja Tegal Dikepung Banjir, DPRD Kabupaten Tegal Dorong Penanganan Serius
BACA JUGA:Proyek Jembatan Sungai Erang Cilongok Molor, Warga Ngadu ke DPRD Kabupaten Tegal
“Ini bukan sekadar kerusakan biasa. Bendung Cipero punya peran vital bagi ribuan petani di Warureja dan sekitarnya. Kalau ini tidak segera diperbaiki, dampaknya bisa meluas, bahkan mengancam ketahanan pangan,” tegas Wasbun di lokasi.
Ia mengaku prihatin melihat kondisi sawah warga yang mulai retak karena kekeringan. Padahal, sebagian petani baru saja bersiap memasuki masa tanam.
BACA JUGA:DPRD Kabupaten Tegal Kritik Tajam Pengelolaan Guci, Bakhrun: Jangan Sampai Jadi 'Seribu Tiket'
BACA JUGA:Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Tegal Lontarkan Catatan Kritis Terhadap Raperda Infrastruktur Jalan
Petani pun tak terbendung. Mereka berharap pemerintah segera bertindak cepat sebelum kerugian semakin besar.
“Sawah kami sudah mulai kering, padahal biasanya air lancar. Kalau begini terus, kami tidak bisa tanam. Kami mau makan apa nanti?” keluh Masroni (52), salah satu petani setempat.
Hal senada disampaikan Karsiti (47), petani perempuan yang menggantungkan hidup dari sawah tadah irigasi Bendung Cipero. Ia mengaku kebingungan menghadapi situasi ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



