Warga Keluhkan Banjir hingga Kemacetan di Tegal Barat, Ini Tanggapan Ketua DPRD
BERI TANGGAPAN - Ketua DPRD Kota Tegal Kusnendro memberi tanggapan atas aspirasi yang disampaikan warga dalam Reses Masa Persidangan II Tahun 2025/2026 yang digelar di Pendapa Kecamatan Tegal Barat, Kamis sore (12/3).--
TEGAL, diswayjateng.com - Suasana Pendapa Kecamatan Tegal Barat, Kamis sore (12/3), dipenuhi warga Kelurahan Kraton, Muarareja, dan Tegalsari. Mereka duduk berjejer, sebagian membawa catatan berisi keluhan yang selama ini dirasakan di lingkungan masing-masing.
Dalam Reses Masa Persidangan II Tahun 2025/2026 ini, Ketua DPRD Kota Tegal Kusnendro mendengarkan satu per satu aspirasi yang disampaikan.
Salah satu persoalan yang mencuat adalah banjir yang kerap melanda halaman Kantor Kecamatan Tegal Barat dan Kantor Kelurahan Kraton.
Saat hujan deras turun, halaman kedua kantor pemerintahan tersebut sering tergenang sehingga aktivitas warga dan pelayanan menjadi terganggu. Menurut Kusnendro, kondisi tersebut membutuhkan penanganan sederhana namun cukup mendesak.
“Salah satunya dengan meninggikan permukaan halaman agar air tidak mudah menggenang,” kata Kusnendro dalam reses yang juga dihadiri Camat Tegal Barat Teti Kirnawati.
Kondisi serupa juga terjadi di Kantor Kelurahan Muarareja. Ketika hujan lebat, air kerap masuk ke halaman, bahkan hingga ke dalam ruangan. Untuk mengatasi hal tersebut, Kusnendro menilai peninggian lantai di setiap ruangan bisa menjadi solusi sementara sambil menunggu rencana rehabilitasi total bangunan.
Selain persoalan banjir, warga Muarareja, khususnya di RW 3, juga menyoroti masalah rob yang kerap melanda wilayah mereka. Tahun ini, kata Kusnendro, penanganan difokuskan.
“Dengan program peninggian jalan serta pembangunan pintu air baru sebagai upaya mengurangi dampak air pasang,” jelas politikus PDI Perjuangan ini.
Dari Kelurahan Tegalsari, perhatian warga tertuju pada Simpang Jalan Lingkar Utara, tepatnya di wilayah Jongor. Titik persimpangan ini selama ini kerap menjadi simpul kemacetan.
Kusnendro menilai keberadaan petugas lalu lintas sangat diperlukan untuk mengurai kepadatan kendaraan di kawasan tersebut, terutama saat arus mudik dan arus balik Lebaran. Petugas perlu disiapkan untuk berjaga seharian penuh.
“Harus ada petugas yang berjaga selama dua puluh empat jam untuk mengatur arus lalu lintas. Kalau tidak ada petugas, biasanya terjadi kemacetan total,” ujar Kusnendro.
Warga juga mengusulkan peninggian dan pengaspalan jalan di sejumlah titik yang sering tergenang saat hujan deras. Air yang meluap hingga ke badan jalan dinilai tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berpotensi merusak jalan lebih cepat.
Kusnendro menjelaskan, di Kali Bacin telah dibangun talut baru di salah satu sisi sungai. Karena itu, pembangunan talut diminta agar dapat dilanjutkan di sisi lainnya.
“Sehingga, genangan di Jalan S Parman dan Brigjen Katamso bisa lebih cepat surut,” imbuh Kusnendro.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: