Suara Gong dari Sawah Sidamulya, Jejak Peradaban Lama di Tanah Tegal

Suara Gong dari Sawah Sidamulya, Jejak Peradaban Lama di Tanah Tegal

CANDI - Candi Gong berlokasi di tengah sawah dan ditepi Sungai Pagerwangi, di Desa Sidamulya, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal. --

SLAWI, diswayjateng.com – Di tengah hamparan sawah Desa Sidamulya, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, berdiri sebuah situs yang menyimpan kisah masa lampau. Warga setempat mengenalnya sebagai Candi Gong, sebuah jejak peradaban Hindu-Buddha yang diam-diam bertahan di antara pematang dan aliran Sungai Pagerwangi.

Meski tak semegah candi-candi besar di Jawa Tengah, keberadaan Candi Gong menjadi penanda penting bahwa wilayah Tegal pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah Nusantara.

Nama “Candi Gong” sendiri lahir dari cerita yang diwariskan turun-temurun. Konon, pada malam-malam tertentu warga sekitar kerap mendengar bunyi gong yang menggema, seolah mengiringi alunan gamelan Jawa dari arah lokasi candi.

“Dari cerita itulah warga kemudian menamai situs ini Candi Gong,” ujar penggiat sejarah dan situs cagar budaya Kabupaten Tegal, Slamet Haryanto yang akrab disapa Slamet Gelang, Rabu (11/3/2026).

Menurut Slamet, struktur bangunan candi sebenarnya masih cukup terlihat, meski sebagian telah tergerus waktu dan aktivitas alam. Situs ini berada di area persawahan dan dikelilingi pematang, membuatnya seolah tersembunyi di tengah aktivitas pertanian warga.

Penelitian terhadap situs ini pernah dilakukan pada 2008 oleh para arkeolog dan peneliti sejarah. Dari penelitian tersebut ditemukan sejumlah artefak penting seperti batu bata berukir serta arca yang kini disimpan di museum sekolah di Kota Slawi.

“Beberapa batu bata dengan relief unik bahkan kabarnya sempat dibawa ke Perancis untuk penelitian lebih mendalam,” kata Slamet.

Temuan-temuan itu menunjukkan bahwa teknik pembangunan percandian di lokasi ini dilakukan secara cermat dan memiliki nilai sejarah tinggi.

Salah satu bagian paling mencolok dari situs ini adalah yoni yang berada di atas tumpukan batu bata. Benda tersebut berukuran panjang sekitar 30 sentimeter, lebar 20 sentimeter, dan tebal 8 sentimeter.

Keberadaan yoni pada posisi puncak struktur candi menjadi indikasi bahwa tempat ini pernah digunakan untuk kegiatan ritual keagamaan pada masa lampau.

Saat ini, situs Candi Gong juga sedang disurvei oleh Profesor Agus Aris Munandar, Guru Besar Arkeologi dan Ilmu Budaya dari Universitas Indonesia. Survei tersebut dilakukan untuk menelusuri jejak percandian di wilayah Kabupaten Tegal.

“Ada empat titik lokasi jejak candi di Kabupaten Tegal yang sedang disurvei,” ujar Slamet.

Keempat lokasi tersebut antara lain Candi Gong di Desa Sidamulya, Candi Asu Selapura, Candi Bulus Pedagangan, serta situs Candi Kesuben.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: