Tanah Bergerak di Kampung Sekip Semarang, Rumah Warga Ambruk dan Jalan Lingkungan Terancam
TANAH GERAK: Seorang warga melintasi plang larangan melintas di kampung Sekip, Tembalang, Semarang. Fenomena tanah gerak terjadi di Semarang dan membuat satu rumah hampr rubuh. -Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, Diswayjateng.com – Curah hujan tinggi yang mengguyur Kota SEMARANG, Jawa Tengah, dalam beberapa hari terakhir memicu fenomena tanah bergerak di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang. Peristiwa ini menyebabkan satu rumah warga roboh, dua bangunan lain rusak, serta kandang ternak ikut terdampak.
Salah satu warga, Slamet Riyadi, mengungkapkan tanda-tanda pergerakan tanah sebenarnya sudah muncul sejak sekitar satu bulan lalu. Namun, kondisi terparah terjadi setelah hujan lebat yang berlangsung selama dua hari berturut-turut pada Rabu dan Kamis pekan lalu.
“Sudah hampir sebulan ada gejalanya, tapi tidak separah ini. Setelah hujan dua hari itu, langsung parah. Seketika dua rumah terdampak,” kata Senin, 9 Februari 2026.
Ia menjelaskan, kejadian yang menimpa wilayahnya bukanlah longsor biasa, melainkan pergerakan tanah yang berlangsung perlahan namun berdampak besar. Salah satu rumah bahkan tampak bergeser dan seolah terseret masuk ke dalam tanah sebelum akhirnya ambruk.
“Bukan longsor, tapi seperti tanahnya bergerak. Rumah itu hampir masuk ke dalam tanah,” ujarnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi tanah di Kampung Sekip masih labil. Permukaan tanah terasa tidak stabil saat dipijak, sementara jalan kampung yang menanjak memperbesar risiko bagi warga yang melintas. Retakan dan patahan jalan lingkungan terlihat terus bergerak dan ambles secara perlahan.
Slamet menuturkan kawasan tersebut memang telah lama dikenal rawan pergerakan tanah. Meski demikian, ia mengaku baru kali ini menyaksikan kondisi yang dinilai paling mengkhawatirkan sepanjang hidupnya.
“Dari dulu memang rawan. Tapi yang paling parah ya ini. Saya lahir di sini, belum pernah melihat seperti sekarang,” ungkapnya.
Akibat kejadian tersebut, warga mengalami kerugian material yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Kerusakan tidak hanya menimpa bangunan rumah, tetapi juga kandang ternak milik warga.
“Kalau dihitung, ya puluhan juta ada, karena satu rumah dan kandang rusak parah,” beber Slamet.
Sementara itu, Ketua RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli, Joko Sukaryono, menegaskan peristiwa di Kampung Sekip merupakan fenomena tanah bergerak, bukan longsor. Menurutnya, pergerakan tanah terjadi secara perlahan, namun dampaknya sangat serius bagi permukiman warga.
“Ini tanah bergerak, istilahnya tanah ‘mletek’. Ada rumah yang sudah bergeser sekitar dua meter dari posisi awal, tapi belum roboh karena bangunannya masih kuat,” jelas Joko.
Ia mengungkapkan gejala serupa sebenarnya pernah terjadi sekitar 25 tahun lalu. Namun, kondisi saat ini dinilai jauh lebih berbahaya karena pergerakan tanah berlangsung cepat.
“Dulu sudah pernah, puluhan tahun lalu. Sekarang muncul lagi dan pergerakannya cepat, bukan per hari, tapi per menit,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: