Kapal Nelayan Tertahan di Laut Akibat Pendangkalan Jalur Pelabuhan Pekalongan
Kapal tertahan di laut tidak bisa memasuki Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan akibat pendangkalan muara menuju pelabuhan (28/1/2026)--Mukhtarom
PEKALONGAN, diswayjateng.com – Kapal nelayan tertahan di laut akibat pendangkalan yang terjadi di jalur Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) PEKALONGAN.
Pendangkalan alur sungai yang menjadi jalur utama keluar masuk kapal menyebabkan kapal besar tertahan di luar muara dan berdampak langsung pada roda perekonomian nelayan serta pekerja pelabuhan.
Kepala PPN Pekalongan Ibrahim mengatakan, pendangkalan menyebabkan kedalaman alur sungai saat ini hanya berkisar lebih dari satu meter.
Padahal, agar kapal dapat melintas dengan aman, kedalaman ideal alur sungai seharusnya mencapai lebih dari tiga meter.
“Akibat kondisi tersebut, kapal dengan ukuran di atas 30 gross tonnage dipastikan akan kandas jika memaksa masuk,” ujar Ibrahim, Selasa (27/1/2026).
Sedikitnya enam kapal besar tanpa muatan dilaporkan terpaksa tertahan di luar muara selama lebih dari dua hari. Situasi ini membuat aktivitas bongkar muat ikan terganggu dan operasional pelabuhan melambat.
Ibrahim menjelaskan, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam penanganan pendangkalan alur sungai.
Untuk sementara, pihak PPN Pekalongan hanya mampu menyiapkan alat berat berupa ekskavator beserta bahan bakar minyak selama kurang lebih sepuluh hari.
“Karena keterbatasan anggaran, untuk sementara kami hanya bisa menyiapkan alat berat berupa ekskavator dan BBM selama kurang lebih sepuluh hari. Untuk biaya operator, kami sepakati ditanggung bersama oleh pengurus dan pemilik kapal,” jelasnya.
Sebagai langkah darurat, PPN Pekalongan bersama pengurus dan pemilik kapal membentuk kepanitiaan pelaksana pengerukan alur sungai.
Pengerukan dilakukan secara gotong royong dengan sistem urunan dari para pemilik kapal. Biaya operator alat berat diperkirakan mencapai sekitar Rp500 ribu per hari, sementara biaya bahan bakar alat berat sekitar Rp100 ribu per hari.
Proses pengerukan ditargetkan berlangsung selama sepuluh hari, meski belum dapat dipastikan mampu menuntaskan seluruh pendangkalan alur sungai. Kusairi, perwakilan pengurus kapal menyebut inisiatif tersebut diambil agar aktivitas pelabuhan tidak berhenti total dan nelayan tetap bisa melaut.
"Kami tidak ingin roda perekonomian di Pekalongan macet, kami inisiatif bentuk kepanitiaan, kami minta dukungan instansi terkait untuk memberi dukungan agar kita berjalan, karena kita sistemnya urunan," ujarnya.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pekalongan, Imamenu, mengungkapkan keprihatinannya karena tidak ada kapal masuk pelabuhan telah menghambat pemasukan para nelayan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: