DPRD Jateng Nilai Banjir Pati Dipicu Kerusakan Hutan Kendeng dan Lemahnya Tata Kota
Banjir yang menggenangi Jalan Pantura Kudus–Pati memicu kemacetan parah di ruas jalan nasional tersebut.--
SEMARANG, diswayjateng.com – Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Endro Dwi Cahyono, menilai banjir yang kembali melanda wilayah Pantura Timur, khususnya Kabupaten Pati, tidak semata disebabkan tingginya curah hujan.
Menurut Endro, banjir tersebut merupakan akumulasi dari kerusakan lingkungan yang terjadi secara masif, terutama di kawasan hulu Pegunungan Kendeng.
Endro menyebut, pembalakan hutan secara besar-besaran di lereng Kendeng menjadi salah satu faktor utama pemicu banjir.
Kerusakan hutan di wilayah hulu menyebabkan daya serap tanah menurun drastis, sehingga air hujan langsung mengalir ke wilayah hilir dan menggenangi permukiman warga.
“Dalam sepekan terakhir memang terjadi hujan dengan intensitas tinggi di Pantura Timur, termasuk Pati. Namun banjir yang terus berulang ini tidak bisa dilepaskan dari kerusakan hutan di kawasan Kendeng yang sudah berlangsung bertahun-tahun,” ujar Endro, Jumat (16/1).
Selain faktor curah hujan dan kerusakan hutan, banjir di Pati juga diperparah oleh luapan sungai yang tak lagi mampu menampung debit air.
Ia menilai pendangkalan sungai akibat sedimentasi menjadi persoalan serius yang belum ditangani secara optimal.
“Sedimentasi membuat sungai menjadi dangkal. Akibatnya, kapasitas tampung air menurun dan mudah meluap saat hujan deras,” jelas legislator dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Endro juga menyoroti belum adanya konservasi lingkungan yang terpadu antarwilayah di kawasan hulu Muria– Kendeng.
Penggundulan hutan serta alih fungsi lahan menjadi ladang dan perkebunan tanpa perencanaan jangka panjang dinilai memperparah kerusakan lingkungan.
Tak kalah krusial, ia menilai lemahnya tata kelola tata kota turut memperbesar risiko banjir.
Sejumlah kawasan dataran rendah yang rawan genangan justru berkembang menjadi permukiman padat hingga kawasan industri.
“Penataan kota masih lemah. Daerah rawan banjir justru dijadikan kawasan permukiman dan industri, sehingga dampak banjir semakin parah setiap musim hujan,” tegasnya.
Selain itu, kondisi drainase perkotaan di Pati juga dinilai tidak memadai. Banyak saluran air berkapasitas kecil dan tidak mampu mengalirkan air secara optimal saat hujan deras berlangsung lama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: