Talasemia Kabupaten Batang, Ancaman Sunyi yang Membuat Dinkes Bergerak hingga ke Sekolah
Popti Batang saat beraudiensi dengan Dinas Kesehatan Batang-IST-
BATANG, diswayjateng.com - Talasemia Kabupaten Batang hingga hari ini masih menjadi penyakit yang terdengar jauh, asing, dan kerap diremehkan. Padahal masyarakat hidup berdampingan dengan ancaman genetik mematikan ini.
Talasemia Kabupaten Batang bahkan disebut belum dikenal hampir 90 persen warga. Angka itu memprihatinkan karena penyakit genetika itu mengikat penderitanya pada transfusi darah seumur hidup.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang mengambil peran lebih agresif untuk memutus rantai talasemia Kabupaten Batang sebelum terlambat.
Kepala Dinkes Kabupaten Batang, dr. Ida Susilaksmi, menerima audiensi dari Perhimpunan Orangtua Penyandang Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Batang.
BACA JUGA: Jasamarga Catat Sebanyak 214.393 Kendaraan Melintas Ruas Batang Semarang, Jelang Natal 2025
BACA JUGA: BEST Class, Puluhan Siswa SMA Bakti Praja 2 Diajak Masuk PLTU Batang
Pertemuan itu menjadi titik balik karena data yang dipaparkan menunjukkan talasemia Kabupaten Batang terus bertambah seiring minimnya edukasi dan skrining dini.
dr. Ida Susilaksmi menilai pencegahan harus bergeser dari reaktif menjadi proaktif dengan melibatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Mengingat jumlah penyandang yang terus bertambah, saya menginstruksikan Puskesmas untuk lebih gencar melakukan sosialisasi,” ujar dr. Ida dalam keterangannya, Jumat 26 Desember 2025.
Tidak berhenti di Puskesmas, Dinkes Kabupaten Batang bahkan menyiapkan rencana menyasar sekolah-sekolah sebagai medan edukasi baru.
BACA JUGA: Pengamanan Natal Batang Jadi Prioritas, Forkopimda Turun Langsung ke Gereja
BACA JUGA: Film Alas Roban Angkat Mitos Jalur Pantura Batang ke Layar Lebar
Langkah skrining ke sekolah dinilai sebagai strategi kunci untuk menekan talasemia Kabupaten Batang dari hulunya.
“Hal ini kita lakukan untuk mendeteksi sejak dini apakah seseorang membawa gen talasemia, sehingga mengetahui agar mencari pasangan hidup yang bukan gen pembawa talasemia,” jelas dr. Ida.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: