Membaca Komunikasi Simbolik di Balik Tiga Jari

Membaca Komunikasi Simbolik di Balik Tiga Jari

--

Oleh: Riky Ardiyanto

Kepala Komunikasi Universitas Harkat Negeri

Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

 

Sebuah gerakan tidak selalu membutuhkan banyak kata untuk menyampaikan pesan. Terkadang, satu simbol sederhana mampu menyampaikan kegelisahan, membangun solidaritas, dan mengundang perhatian publik. Itulah yang terlihat dari simbol tiga jari yang diangkat para peserta aksi Gerakan Indonesia Sadar pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Di tengah barisan massa, tiga jari yang terangkat bukan sekadar gerakan tangan. Simbol tersebut hadir bersama slogan “Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan”, sebagai ekspresi kritik terhadap persoalan yang dinilai belum mendapatkan penyelesaian memadai.

Aksi yang berlangsung di Jakarta dan sejumlah kota lain itu menyuarakan tuntutan terkait krisis ekologis, prioritas anggaran negara, pendidikan, lapangan kerja, pemberantasan korupsi, serta kebebasan sipil. Dalam perspektif ilmu komunikasi, unjuk rasa tidak hanya berlangsung melalui orasi, poster, spanduk, dan tuntutan tertulis.

Ia juga bekerja melalui simbol yang ringkas, mudah dikenali, dan dapat menyatukan berbagai pengalaman sosial dalam satu pesan. Pertanyaannya, bagaimana simbol tiga jari menjadi bahasa perlawanan? Apa kaitannya dengan berbagai gelombang demonstrasi di Indonesia? Dan bagaimana pesan tersebut perlu dibaca dalam hubungan antara masyarakat dan pemerintahan Presiden Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran?

Simbol tiga jari dikenal luas melalui novel dan film The Hunger Games (2012) karya Suzanne Collins. Dalam cerita tersebut, gestur tiga jari pada awalnya digunakan sebagai tanda penghormatan, simpati, dan perpisahan. Seiring berkembangnya cerita, simbol itu memperoleh makna politik yang lebih kuat, yaitu solidaritas dan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter.

Popularitasnya kemudian melampaui dunia fiksi. Gestur serupa digunakan dalam berbagai gerakan prodemokrasi, termasuk di Thailand setelah kudeta militer 2014 dan Myanmar setelah kudeta 2021.

Dalam konteks berbeda, simbol tersebut menjadi cara untuk menyatakan penolakan terhadap kekuasaan yang dianggap membatasi kebebasan. Namun, penting dicatat bahwa The Hunger Games bukan satu-satunya akar historis penggunaan gestur tiga jari. Film dan novelnya berperan besar dalam memopulerkan simbol tersebut dalam budaya populer modern, sementara maknanya terus berkembang ketika digunakan oleh kelompok sosial dan politik yang berbeda.

Aksi Indonesia Sadar kemarin, menunjukkan bahwa simbol ini kembali memperoleh makna sesuai konteks lokal. BEM Universitas Indonesia juga menghubungkannya dengan nilai kebebasan (liberté), kesetaraan (égalité), dan persaudaraan (fraternité) yang diasosiasikan dengan Revolusi Prancis. Pemaknaan tersebut merupakan interpretasi yang digunakan dalam konteks gerakan, bukan arti tunggal yang berlaku universal bagi setiap penggunaan simbol tiga jari.

Di Indonesia, simbol itu tidak hadir dalam ruang hampa. Ia bertemu dengan persoalan konkret yaitu kekhawatiran atas kerusakan lingkungan, biaya pendidikan, kesempatan kerja, penggunaan anggaran negara, penegakan hukum, dan ruang kebebasan berpendapat. Karena itu, memahami tiga jari tidak cukup dengan menafsirkan bentuk gesturnya. Kita perlu membaca situasi sosial yang membuat simbol tersebut digunakan.

Dalam semiotika Charles Sanders Peirce, tanda dapat dipahami melalui hubungan antara tanda itu sendiri, objek yang dirujuk, dan interpretasi yang terbentuk dalam pikiran penerimanya. Kerangka ini membantu menjelaskan mengapa satu gestur bisa memiliki makna berbeda dalam konteks yang berbeda.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: