Menuju Sistem BRT Ideal: Menakar Tantangan Nyata Transformasi Trans Semarang
Transformasi Trans Semarang melalui jalur khusus BRT dan bus listrik dinilai harus dibarengi peningkatan kesejahteraan pengemudi demi transportasi publik berkeadilan.-dok. trans semarang-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, diswayjateng.id – Layanan Bus Rapid Transit (BRT) kebanggaan warga Kota Atlas, Trans Semarang, kini tengah berada pada fase krusial dalam sejarah perjalanannya. Sebagai urat nadi transportasi publik utama di ibu kota Jawa Tengah sejak 2009, transformasi Trans Semarang kini tidak lagi sekadar wacana, melainkan tuntutan modernisasi yang menyeluruh.
Langkah besar ini sejalan dengan masuknya Semarang sebagai salah satu kota prioritas dalam program Indonesia Mass Transit Project (MASTRAN).
Program berskala nasional yang digagas oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dengan dukungan finansial dari World Bank serta Agence Française de Développement ini, membidik pembangunan infrastruktur transportasi massal yang andal dan berkelanjutan.
Namun, di balik megahnya cetak biru masa depan tersebut, pengamat mengingatkan adanya tantangan nyata yang harus diselesaikan secara beriringan: jalur khusus, elektrifikasi, dan kesejahteraan pengemudi.
BACA JUGA:BNPB Serius Tangani Tanggul Laut Jebol Pemicu Pemukiman Warga Pati Terendam Banjir
Tiga Fokus Utama Transformasi Trans Semarang
Untuk mewujudkan sistem transportasi publik yang ideal, modernisasi Trans Semarang saat ini bertumpu pada tiga pilar utama:
- Pembangunan Jalur Khusus (Dedicated Lane): Saat ini, Trans Semarang mengoperasikan delapan koridor utama dan empat layanan feeder. Sayangnya, ketepatan waktu belum optimal karena armada masih bercampur dengan kendaraan pribadi. Melalui program MASTRAN, tiga koridor utama telah disiapkan untuk memiliki jalur khusus permanen guna menjamin kepastian waktu tempuh.
- Elektrifikasi Armada: Pemerintah Kota Semarang menunjukkan komitmen progresif terhadap lingkungan dengan memulai transisi dari bus berbahan bakar diesel ke bus listrik ramah lingkungan.
- Reformasi Kesejahteraan Pengemudi: Aspek sosial yang menjadi ruh dari operasional harian, yakni sistem pengupahan yang adil bagi para pramudi.
Menghindari Jebakan Modernisasi Fisik Semata
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, menegaskan bahwa esensi dari transformasi Trans Semarang adalah membangun sistem yang berkeadilan, bukan sekadar mengganti bus atau membangun jalan.
“Keberhasilan transisi ini akan utuh ketika kecanggihan infrastruktur berjalan beriringan dengan jaminan kesejahteraan para pengemudinya. Modernisasi armada tanpa reformasi sistem pengupahan berisiko menciptakan ketimpangan baru di dalam ekosistem transportasi publik itu sendiri,” ujar Djoko, Senin, 22 Juni 2026.
BACA JUGA:Semarang Tancap Gas Bangun Ketahanan Pangan, Agustina: Pangan Aman Pondasi Kesejahteraan
BACA JUGA:Aktivis Perempuan di Semarang Kritik MBG Lewat Aksi Memasak Kemarahan di Depan Kantor Gubernur
Djoko menilai, sistem remunerasi saat ini belum membedakan jenis armada yang dioperasikan, padahal tanggung jawab dan beban kerjanya jauh berbeda.
Ia mengusulkan skema pengupahan proporsional berbasis Upah Minimum Kota (UMK):
1. Pengemudi Feeder
- Usulan Skema Pengupahan: Setara UMK
2. Pengemudi Bus Sedang
- Usulan Skema Pengupahan: 1,5 kali UMK
2. Pengemudi Bus Besar
- Usulan Skema Pengupahan: 2 kali UMK
BACA JUGA:Bus Listrik Trans Semarang Diuji di Koridor 1, Simpang Lima Jadi Fokus Pembenahan Banjir
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
