Makna Tersembunyi Tradisi Gantung Ketupat dan Lepet, Simbol Minta Maaf Saat Lebaran

Makna Tersembunyi Tradisi Gantung Ketupat dan Lepet, Simbol Minta Maaf Saat Lebaran

Tradisi gantung ketupat dan lepet di Jawa Tengah masih lestari saat Lebaran.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan

“Kalau harus dipintu, saya sendiri juga tidak tahu. Pastinya biar terlihat karena sering dilalui orang kayak gitu,” ucap Sulastri. 

Tradisi ini secara tidak langsung telah dijadikan sebagai pengingat akan pentingnya saling memaafkan di momen Lebaran.

Tradisi gantung ketupat dan lepet diketahui telah diwariskan oleh orang tua Sulastri. Kebiasaan ini kemudian dilanjutkan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai keluarga. 

“Ya, ini dari kakek, trus ke orang tua dan masih saya teruskan. Intinga sebagai simbol minta maaf gitu aja,” ungkapnya. 

Jumlah ketupat dan lepet yang digantung biasanya tidak banyak, hanya satu pasang. Namun, jumlah tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada. 

“Biasanya itu cuma satu-satu, ketupat satu sama lepet satu aja, cuma kemarin masaknya kebanyakan jadi saya pasang banyak,” jelasnya.

Meski tradisi ini masih dijalankan, tidak semua warga di lingkungan tersebut melakukannya. Sebagian masyarakat memilih untuk tidak mengikuti tradisi ini, dengan alasan yang beragam. 

“Tidak semua. Ada yang pasang, ada yang tidak masang juga,” kata Sulastri. 

Perbedaan ini dianggap sebagai hal yang wajar, mengingat tradisi sering kali dipengaruhi oleh latar belakang keluarga dan kepercayaan masing-masing. 

Tradisi Gantung Ketupat dan Lepet sebagai Identitas Budaya Jawa Tengah

Tradisi gantung ketupat dan lepet di Jawa Tengah telah menjadi bagian dari identitas budaya lokal yang sarat makna. Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai seperti saling memaafkan tetap dijaga melalui simbol-simbol sederhana. 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: